Showing posts with label saya 'mungkin ' butuh istirahat. Show all posts
Showing posts with label saya 'mungkin ' butuh istirahat. Show all posts

Monday, 9 April 2012

Where are you Canggih?

I am here, not gone, holding on. ^^ well, indeed I lost it, the sense of writing and tell you what is happening on me so far.

so many things happen. I can't even remember those in details. Well, some student in my housing were moved out for a new better house or because they were all finished their stay in Groningen. Some suprisingly amazing student coming in, I am happy because they are all rocks. Great friends, we have a Saturday night international dinner routine now.

I've bought a couple of new dress, I don't know why but yeah I've bought it anyway. I go to James Morrison's concert in Amsterdam w/ Anggun and Yosier, having Amsterdam ArenA tour w/ Nicola and Vincenzo, having a very cruciating weeks w/ Theo (we have an exam w/ most massive material to read),going to ICJ (still w/ Theo) to borrow some books and study (hell yeah study, working on our thesis)

Well, most of it, I am glad that I am starting to draw again. Will post some pict very soon. Just wait. I miss you blog, just miss the feeling when I click the "publish post" button. Gotta come back to you soon.

Sunday, 27 November 2011

everything I own is you

I understand your face. I can read it, letter by letter. It seems like my own very language. It is beautifully clear to me. I smell your shadow. In you I hear my lovely voice. Let be my laugh be the only thing you will see, as happiness may come to you. You are pure valiant. You are I came here to find. In your naked eyes I see the future of amazing life. I love you my husband. The cheering soul that sad would bend its knee.


I miss you so much @mrnugrah

Sunday, 23 October 2011

bist du bei mir

Matahari yang menyinari hati kita adalah matahari yang sama.
Langit yang menaungi langkah kita jugalah masih langit yang sama.
Bumi yang kita pijak pun masihlah bumi yang sama.
Namun mengapa menggapai bayangmu saja begitu sulit.
Mengapa jejakmu tak lagi dapat kurasai.
Mengapa kenyataannya dirimu begitu jauh.

Kurengkuh sinar matahari itu namun pelukku berbuah sepi.
Kupandangi langit itu namun mataku tertutup airmata rindu.
Kupijak tanah bumi ini, namun mengapa tak kudapati langkahmu disamping jejakku.
Jika berpisah denganmu terasa sesakit ini,
Jika tanpamu dunia terasa begitu hampa,
Jika hidup ini terasa seperti mati.
Apalah arti aku di sini.

Rindu ini datang tanpa kendali.
Tiba-tiba merasuk meracuni setiap inci darah di nadi.
Kadang tak sanggup aku mengurai imagi.
Ini begitu sulit untuk dilalui.
Derai airmata ini tak lagi sanggup mengurangi.
Galau di hati ini mengiris nurani.

Di dalam pelukmu ijinkan aku kembali.
Melepas penat dan lelah hati.
Ijinkan aku menangis kala nanti aku kembali.
Agar sesak di dada ini hilang berganti.
Dengan hadirmu yang hakiki, yang jariku dapat rasai.
Tunggulah aku kembali. 10 bulan lagi.

Kangenku pada seseorang yang kupanggil dia suami.

Friday, 15 July 2011

Kasak-kusuk Kasus Kontrak Riedl Di Mata Saya

Jelas kisruh ini mengganggu demam Harry Potter saya. Riedl memiliki ejaan sama dengan bahasa inggris dari kata teka-teki atau riddle. Teka-teki? Saya rasa bukan. Suporter kisruh, absurd sekali menurut saya. Dua kubu, jika berani, tunjukkan saja kontraknya ke muka umum, biar saya dan anda yang setiap hari mencaci dan memaki dapat berargumen dengan sehat dan berdasar.

Kontrak kerja, sama dengan kontrak-kontrak lainnya merupakan dokumen penting. Sama pentingnya dengan akta jual beli, SHM bangunan, akta kelahiran, surat nikah, dan mungkin kartu keluarga. Intinya dokumen itu penting dan tidak boleh hilang.

Kontrak memang tidak dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti KTP atau SIM, tetapi kontrak itu memuat hak dan kewajiban antar pihak yang mana isi, pemenuhan kewajiban dan masa berlakunya sangatlah penting untuk diingat. Kebiasaan dan keharusan bahwa kontrak disalin dan ditandatangani (bahkan di bawa ke notaris untuk di sah kan), yang mana salinannya itu di simpan masing-masing pihak.

Dalam kasus Riedl, bagi saya ada 6 kemungkinan paling kasat mata :
1. Kontrak asli (yang seharusnya ada di PSSI) hilang, bisa karena tidak tertib administrasi (tapi bodoh menurut saya, karena terhitung itu kontrak penting).
2. Kontrak asli sengaja dihilangkan oleh pengurus PSSI lama, karena yang baru belum hitungan minggu berkantor (ini bisa saja terjadi melihat track record PSSI lama yang begitu ‘bersih”.
3. Riedl dan agen-nya atau siapapun yang mewakili keberadaannya di Indonesia sangat ceroboh dengan tidak menyimpan kontrak dengan baik dan benar.
4. PSSI baru tidak mencari dengan sungguh-sungguh dan memecat tanpa dasar (karena kontrak yang dijadikan dasar pemecatan itu ‘saat ini’ tidak diketahui keberadaannya dan tidak pernah di share ke publik.
5. Riedl melakukan kontrak dengan pihak yang tidak seharusnya mengkontrak dia, atau dalam hal ini dia tidak dikontrak oleh institusi tapi perorangan (kalau ini benar, maka kontrak seharusnya sudah cacat hukum sejak awal dan tidak dapat dilaksanakan).
6. PSSI baru dan pihak Riedl ataupun bahkan PSSI lama memiliki kontrak tersebut dan sama-sama tidak ingin publik mengetahuinya.

Kontrak sepenting itu hilang dan tidak ditemukan salinannya sama sekali, itu sungguh peristiwa yang menggelikan menurut saya. PSSI baru tidaklah sepenuhnya salah, walaupun mereka memutuskan kontrak dengan sepihak (asas itikad baik sudah dilupakan rupanya), namun jika kontrak itu dari awalnya sudah cacat maka sebenarnya asas itikad baik tidak pernah aktif di dalam sebuah kontrak tersebut sehingga kontrak kapanpun dapat diputuskan oleh pihak yang merasa di rugikan.

PSSI baru seharusnya berani mengungkap ke publik isi kontrak (kalau saya tidak salah, mereka berargumen bahwa Riedl hanya dikontrak oleh Nirwan Bakrie bukan atas nama PSSI) berarti dengan fakta ini seharusnya kontrak itu ada dong, lawong mereka bisa tahu Riedl hanya di kontrak Nirwan Bakrie. Jika kontrak itu cacat hukum atau jika pun kontrak itu ternyata sah, selayaknya kita perlu menjajaki dua kemungkinan, kedua pihak ingin memperpanjang / memperbaharui kontrak atau kedua pihak tidak lagi bersedia terikat secara hukum dalam tinta di atas kertas putih bernama kontrak.

Harus dimengerti oleh semua pihak, bahwa jika kedua belah pihak tidak bersedia lagi terikat, maka putuslah hak dan kewajiban antar keduanya. Tapi hendaklah semuanya di lakukan dalam kondisi mufakat atau kesepakatan, jika tidak dalam kontrak resmi (untuk sekelas pelatih Timnas saya rasa pasti ada klausul Penyelesaian Sengketa) mengapa tidak dimanfaatkan jika merasa dirugikan. Pertanyaannya, apakah Riedl dirugikan dengan diberhentikannya dia dari posisi pelatih Timnas? Yang rugi mungkin para pemain Timnas, namun sayangnya pemain Timnas bukan para pihak dalam kontrak tersebut.

Yang paling membuat saya heran adalah, mengapa Riedl tidak memberikan salinan kontrak yang dia simpan (atau dari sini mungkinkah kita asumsikan kontrak itu hilang, nah kalau sudah begini faktor kesalahan bisa terbagi antar dua pihak). Dalam kondisi ini berpikir logis sangat dibutuhkan, emosional karena takut akan kekalahan di laga pra – kualifikasi tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kontrak kerja. Ketakutan akan tidak kompaknya Timnas dengan pelatih baru hanya ada di benak kita, sesuatu yang sifatnya emosional tidak tercakup dan tidak mampu dicakup di dalam deret-deret tulisan di dalam kontrak kerja. Jikapun Riedl ternyata masih memiliki kontrak tersebut maka sebenarnya masalah akan bisa dijelaskan dengan gamblang, dan sebenarnya akan lebih mudah untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah? . Riedl pernah mengatakan bahwa kontraknya sah (http://bola.kompas.com/read/2011/07/15/12424288/Riedl.Ancam.Adukan.PSSI.ke.FIFA) ya kalau begitu tunjukkan ke publik, biar masyarakat memiliki dasar kuat untuk menilai bukan atas dasar ‘kata media’ yang semakin suka mengadu domba dan tidak netral.

Logisnya, jika saya ingin melakukan bisnis jual-beli rambutan, maka saya sebagai pembeli akan mencari seorang petani rambutan yang memiliki hasil produksi yang saya rasa bagus dan akan menguntungkan saya. Namun, setelah saya mendapatkan pembeli tersebut, dia ternyata ogah-ogahan bekerja sama dengan saya atau mungkin dia tidak suka dengan Ibu saya misalnya, atau dia memusuhi adik saya. Dia ternyata tahu bahwa saya bukanlah rekan bisnis yang dia inginkan, nahhhh kalau sudah begini saya rasa, saya akan mencari petani rambutan lain, yang meskipun rambutan produknya tidak seberapa manis namun dia baik dan bisa diajak bekerja sama menyatukan tujuan bisnis rambutan saya. Loginya adalah, untuk apa saya pertahankan seorang petani rambutan yang berpotensi tidak sanggup bekerja secara tim dengan saya dan menghancurkan bisnis saya. Bagaimana menurut anda?

Menurut saya, menunggu dan mengamati adalah langkah yang paling benar. Jangan keputusan ini dikritik, keputusan itu dikritik, semua yang jadi pimpinan juga akan gagap bertindak dan gagu berbicara. Apalagi kalau yang tukang protes bisanya cuma protes saja, malah tambah runyam. Kalau setiap pimpinan baru bertindak sudah di caci maki (sebagian karena emosional saja dan bukan karena dasar pemikiran yang dalam) selamanya kita tidak akan memiliki pemimpin. Atau ini semua karena kita tidak capable untuk di pimpin. Saya agak kurang setuju bahwa pimpinan baru ini kurang lebih hanya berbeda wajah dan tubuh saja tapi watak dan tujuan sih masih sama dengan Nurdin. Ehm, Nurdin saya anggap pantas turusn karena 'selama bertahun-tahun' menjabat ketua PSSI dia tidak memberikan apa-apa kepada publik. Kalaupun di AFF kita gemilang, banyak faktor saya kira yang mendasari bisa karena pelatih, bisa karena pemain, bisa karena suporter yang mana tidak ada faktor yang dominan di antaranya, semuanya saling terkait. Jadi jika Riedl keluar lalu kita kalah? sebenarnya bukan sebuah sikap yang baik, pesimis dan pemikiran negatif itu tidaklah sehat. Tapi apa iya juga kalau Riedl masih melatih kita akan menang?. well, ada yang mengatakan Riedl you are the best, the best diantara siapa, kalau dibandingkan dengan pelatih Timnas jaman keemasan Indonesia tahun 1980? apa iyah masih the best. Ayolah, mencoba berpikir kedepan bukan lagi sentimental dengan kenangan.

Wait and see, bahkan bom waktu pun memiliki kendali. Protes lah dengan benar, fakta itu langkah deduksi sejati untuk menemukan penjahat yang kita cari. Dari sini anda mengerti ?. Stop mencaci dan memaki, anda tahu bahwa jika andapun jadi pemimpin, apa iyah anda bisa de-idealis dan se-naif ini?

Thursday, 26 May 2011

for a fantasy, this is waaaayyyy too tragic

I am a tweeting woman. Even though my traffic decreased lately, but I am actively monitor my timeline in every hour every day. Just log in, check something important and then log out. 4-5 minute enough. That’s when I am busy, if not I would spent hours in a day just to re-tweeting, replying, quoting, or just tweet some ‘interesting’ topics that ‘in purpose’ to attract people to comment on those.

I do realize that I am a creative person, I am totally loves to write and raise an issue to talk to, OR sometimes I wrote something relates to what happen in a day. But I thought that my idea is running out, this is all because my brain is shrinking.

It just me or world begin to walks faster than 4 or 5 years ago. I am tired catching the deadline, tired of running the gear, tired of hoping something empty, tired of being alone struggling. I am tired of being me nowadays. I wanna quit. I wanna reach the door with the ‘STOP’ or ‘REST’ sign in it. I wanna PAUSE. Click one button that makes this world stop moving around. Just give me sometimes to breath and think with my weary heart and soul.

I wanna cry, but my eyes were not a sufficient tears-can, it can’t just pours the water out, I need something much more mellow-dramatic scene. I wanna quit but I am not typically a quitter. THESE MAKE ME CONFUSE, about who am I and what am I gonna doing with this unstable feeling.

I am holding a chance of maximum lots of £ and possibility of going to watch Manchester, Liverpool and a like, LIVEEEEEEEEEEE. I AM PREPARING MYSELF TO ENGLAND THIS YEAR, and damn this feeling is too much like a dream rather than reality. I tell you why?

1.I have no admissions letter from University in the UK. And this is tragic »ω« (I feel like moron this way)
2.If I am not gonna get that admission letters or if there are no UK institutions wanna give me a ‘seat’ in their beloved University >>> the Lovely British Council will just kick my a** out of the box. (this is waaaayyyy too tragic)
3.Now, I can’t sleep tight. Headache in the morning, pale face in the noon, stomachache in the night. ::: I spend almost the day preparing documents and do massive university hunting.
4.I CAN’T DO ANOTHER IELTS TEST. Why? THERE IS NO SQUIRRELS IN MY WALLET. Are we clear on this one?
5.Next month is my Wedding. And I need my brain to helps me concentrate, moreover in the wedding night, some bed-stuff, about making my husband happy. I need my energy, I need my brain back in place. I can’t go home with this mess, I just can’t.
6.June is near to its end, July would come, and I am not even ready for “HOLDING THIS IMAGINARY £”. It seems like I just drown on fake euphoria.
7.Some administrations problem in my office punch my face “literally” bringing some hot issue about “my impossibility of going to England”. That’s very destructive motivation from my office, thanks a lot.

Now, you know I call this chance a dream than a reality, because it is close to fantasy than a fact. Now, you know I am not around much lately. It is because I am busy making myself sure that this is not a dream and I need to move on and sadly to say, this is waaaaaaaaaaaaayyy too difficult.

Sunday, 10 April 2011

Aremania is a suporter not a tickets fund-raiser

saya menulis ini karena merasa sudah cukup gerah menyaksikan Arema Indonesia dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya.

ide untuk menggalang dana lewat tiket terusan memang saya anggap mulia, mengapa? karena ide ini hanya bertujuan untuk satu : Arema Indonesia tetap hidup, berkorban apa yang bisa dikorbankan agar gaji pemain lancar dan Arema Indonesia tetap berjaya.

namun apa? . saya adalah Aremanita yang 'tidak' mengikuti program mulia ini, karena satu alasan. saya suporter bukan fund-raiser. saya menonton sepak bola dan bakat-bakat menggocek bola di lapangan karena saya menyukainya dan mendapat hiburan di sana. sepakbola saya anggap seperti sports yang di suguhkan oleh skill dan strategi di lapangan. saya tidak akan membayar jika saya tidak menonton. apalah bedanya dengan menonton gratis di televisi.jika saya datang ke stadion, itu karena saya ingin merasakan 'atmosfir' sepak bola dan segala keriuhannya, dengan segala teriakan dan pengobar semangat.

memikirkan keuangan team bukanlah tugas suporter, kita ini bukan sapi perahan. kalau manajemen kekurangan uang, mereka tidak seharusnya menggantungkan diri kepada suporter.jika laga sepi penonton, itu bukanlah suatu tanda ketidakloyalan suporter. bukan suporter yang memberi makan para pemain dan membayar gajinya.suporter bebas memilih untuk hadir dan membeli tiket, atau untuk diam dirumah bersama keluarga menonton di tv, apakah keadaan yang terakhir berarti sebuah ketidakloyalan. team dan club itu bukan agama, mereka tidak mengikat suporter seperti jerat, mereka itu kesenangan, tempat berkumpul dan mencari teman, tempat mendukung dengan free-will, tempat menyaksikan bakat-bakat hebat berpadu, bukan untuk menyeret kita ke lubang loyalitas buta yang menjerat, mau tak mau penonton harus beli tiket, tiket adalah tanda loyalitas. sempit, kalau begitu. bagaimana jika saya membeli merchandise asli berhologram 5 buah dan saya bagikan ke keluarga setiap ada model baru keluar, satuannya 180rb kalikan saja, namun saya tidak sanggup datang ke stadion, dan tidak pula membeli tiket karena saya tidak menonton langsung. apa iyah saya tidak loyal kepada team?.

jika Arema Indonesia menganggap suporter berharga, lemparlah saham Arema Indonesia ke suporter, biarlah suporter memiliki Arema Indonesia seutuhnya. jangan menaikkan tiket, ini mencekik namanya, kalaupun toh ada yang bersedia membeli, itu hanya berapa persen diantaranya. kalaupun ada yang berduit untuk membeli tiket di seluruh laga kandang, hanya segelintir saja. loyalitas membutuhkan integritas dari semua lini, membutuhkan langkah nyata, loyalitas bukan untuk dikomersilkan.

Aremania loyal luar biasa, itu sudah rahasia umum, tapi pun harus cerdas. membeli tiket tanpa menonton sama artinya, membeli permen tanpa mampu mengecap rasanya. kita bahkan tidak mengetahui uang tiket itu dikemanakan oleh pihak manajemen. ide ini bagus namun tidak menjamin apa-apa. hasil penjualan tiket memang berpengaruh bagi keuangan team, namun seharusnya bukan itu 'pegangan' manajemen. kreatif dan memiliki dedikasi itu yang harus dilakukan manajemen. jika tidak mampu menjadi pionir kreatifitas, apa bedanya Arema Indonesia dengan team-team ISL lain yang masih menyusu pada APBD. hal mana suporter kini yang jadi sapi susuannya.

membeli tiket tanpa menonton sama saja membeli barang imajiner. kita bahkan tidak memegang barang walau sudah melakukan transaksi. inikah loyalitas tanpa batas?. kecuali jika niatan saya pertama kali bukan untuk membeli tiket laga, namun memang 'menggalang dana', toh saya tidak akan kecewa jika tidak duduk di stadion langsung. kalah ataupun menang.

Tuesday, 22 March 2011

Tau gitu, tadi ke Pondok Indah saja :(

Sebalnya aku saat setelah lari-lari dan berkeringat di pagi hari ternyata Bu Bos tidak menampakkan diri. Sampai sekarang pun beliau-nya masih di negeri antah-barantah. Capek dehh.

Rencananya hari ini aku ke Pondoh Indah, mengurus keperluan IELTS di IDP, namun karena beberapa sebab dan lain hal, aku mengurungkannya, termasuk karena pertimbangan aplikasi beasiswa itu belum ditandatangani oleh Pak Sesban. Semoga saja saya cepat mendapat kabar, mempertimbangkan waktu pengajuan tinggal 1 minggu lagi.

Tau gitu tadi di urus saja, mumpung Bu Bos sedang tidak di tempat, soalnya kalo dia ada yang bisa terjadi malah saya ndak bisa ke IDP (terjebak diantara tumpukan ND dan slide presentasi yang harus rampung dalam hitungan menit).

Yaa Rabb, hati manusia memang suka terbolak-balik, berilah aku niat yang lurus Yaa Khalik, agar hatiku mantab, agar hatiku tenang. Insyaallah, semoga Pak Sesban tidak menunda 'menyentuh dan menandatangani" dokumen aplikasi itu, agar secepatnya saya terbebas dari belenggu memikirkan semua ini.

bisa kurus saya nanti. Hidup Pencari Sekolah Gratis. Man Jadda wajada, man sabara shafira.

Wednesday, 2 March 2011

HOPE

entah mengapa beberapa hari ini saya begitu melankolis. mencoba untuk tenang, namun tidak bisa. sepertinya hati saya memang sudah mereka beli dengan 'rasa memiliki' sebagai mata uangnya.

(taken from OngisnadeNet)

sore ini Arema FC akan berlaga melawan Cerezo Osaka di Osaka. yang terbersit dalam benak saya pertama kali adalah, rasa syukur yang tidak terhingga kepada Allah swt. saya sama sekali tidak memikirkan mereka menang atau kalah, yang ada saya hanya ingin seluruh punggawa Arema FC itu happy, berjuang tanpa beban dan pulang tanpa satu pun mengalami cidera.

kemenangan itu bisa ditentukan dengan banyak hal, tempat, suhu, statistik dan kondisi pemain. bagi saya Cerezo yang bermain di kandang akan lebih menguntungkan, entah apapun itu, faktor non-teknis pasti akan selalu memiliki pengaruh, signifikan atau pun tidak.

terlepas dari prestasi yang selalu saja berhasil membuat saya menitikkan air mata itu, ternyata persepakbolaan di Indonesia tak kunjung membaik. setiap kali saya menonton berita di TV, nampaknya masalah kepengurusan PSSI dan ketua umum-nya ini tak jua berakhir. semakin didengarkan semakin muak rasanya, saya begitu bosan mendengar kata statuta dan FIFA.

saya pikir, kok miris sekali, saat harus berjuang di negeri orang mengharumkan nama Indonesia, di negerinya sendiri gonjang-ganjing terus. beruntung saya dikelilingi oleh orang-orang yang berasal dari beberapa kubu sehingga sudut pandang saya pun juga tak sempit.

hanya mencoba meluruskan beberapa pendapat :
1. jika anda ingin Nurdin turun, yang mana adalah sulit untuk dilakukan. Pilihlah pemimpin baru yang akan membantu jalannnya revolusi. Apalah guna jika Nurdin turun, tapi tetap digantikan oleh 'antek-anteknya' lagi, apalah guna jika bukan Nurdin tapi 'anak buahnya' yang maju duduk.
2. jika kita ingin memboikot ISL, yang mana adalah mustahil dengan banyaknya klub ISL memiliki suporter fanatik. Jalan satu-satunya ialah klub itu harus tidak di ISL. logis.
3.jika saya pun hendak turun ke jalan di senayan, yang mana tidak mungkin saya lakukan karena saya perempuan dan harus bekerja, maka saya menulis dan semoga dibaca.
4. jika beberapa orang tidak menginginkan Nurdin di saat yang sama tidak pula menginginkan Arifin Panigoro dan George Toisutta, ini menjadi kosong pada akhirnya. siapa lantas yang akan tampil memimpin, seorang kamerad baru tanpa backing? saya rasa mustahil.
5.jika FIFA ingin mendengar, saya harap tidak dari PSSI saja. well, saya ragu FIFA tahu tentang 'betapa sakit' PSSI kita. mari berdoa.
6. jika FIFA menyetujui statuta PSSI, yang mana sudah menjadi rahasia umum bahwa Nurdin 'menyelintut' pasal 34 ayat 4 itu juga barang aneh yang kemudian menjadi lazim karena 'hak rehabilitasi' itu. nah bukankah statuta itu berlaku sejak dulu, nah dulu khan belum ada 'hak rehabilitasi' ini ... nah,nah,nah .. intinya saya sedih, semakin bodoh saja negeri ini.

saya salah satu yang dianggap tidak bergerak saat revolusi ini bergulir. yang terkena cibiran karena diam tak bersuara.saya kira saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan Arema FC, seburuk apapun cibiran orang terhadapnya saat ini. fokus untuk LCA juga sama pentingnya dengan melanjutkan sisa kompetisi di ISL. tapi di satu pihak, saya tidak ingin kompetisi 'sejenis' ISL ini tetap eksis, disamping melanggengkan Nurdin, ISL ini benar-benar membuat hati saya sakit.

saya mencintai sepak bola sebagai olahraga dan saya pun mencintai Arema FC sebagai bagian dari identitas saya. agaknya memang sulit menentukan sikap. bukannya tidak mau, tapi berhati-hati juga perlu.

yang kita tunggu : respon dan rencana pasti kedepan nanti. karena kita tidak akan berhenti di persimpangan ini. Arema FC toh harus memilih untuk tetap seperti ini atau ikut melebur bersama revolusi. ketegasan itu harusnya mutlak dan pasti.

Friday, 18 February 2011

DREAM BREAKER

APA PANGGILAN YANG PALING INDAH UNTUK ORANG YANG SUDAH MENGHANCURKAN MIMPI-MIMPI DENGAN CARA YANG TIDAK ADIL.


PENJAHAT !!!!.

welcome to An iDiot Scholarship dude.

Tuesday, 8 February 2011

— André Gide

"It is better to be hated for what you are than loved for what you are not."

menemukan sebuah quote dari Gide membuat saya tersenyum sore ini. Tentang menjadi diri sendiri.

saya sudah sering dicemooh karena ingin menjadi apa adanya diri saya, yang tidak suka basa-basi, yang tidak suka menjilat, yang tidak suka senyum-senyum sok ramah. Kalau saya tidak suka maka akan saya katakan tidak. Kalau bagus, maka pujian akan terlontar dari mulut saya. Memang kadang menyakitkan, tapi itulah saya.

lebih baik saya menjadi diri saya sendiri dan inilah yang anda lihat, suka atau tidak, dibandingkan dengan berpura-pura menjadi orang lain yang ada suka.

Wednesday, 2 February 2011

blog bola ??

saya tertawa terbahak-bahak saat membaca pesan yang dikirimkan oleh seseorang (yang bahkan saya tidak kenal) tentang blog ini lewat salah satu situs pertemanan.

"Kak, kok gak pernah nulis soal bola lagi di blog-nya.Blog bola nya udah banyak saingan yah Kak"

bukan karena apa, saya hanya ingin menjelaskan kepada semua, ini bukan blog tentang bola. Ini blog saya dan semuanya tentang saya. Jika saya menulis tentang sepak bola itu karena kecintaan saya pada olahraga itu, bukan sama sekali bermaksud membuat blog tentang bola.

ini blog pribadi yang sarat dengan curhatan dan muntahan isi kepala, bukan tentang setiap detik selama 90 menit di lapangan hijau. blog ini bebas, bukan tentang pemain dan club apa. jika menemukan tentang Arema FC itu murni karena saya Aremanita.

anda jelas ?

Thursday, 27 January 2011

A Beloved Father Called Papa

there it would be something than just posting words in my blog. I have been already change so many things in it. Just to refresh, and looking for something new.

Pagi ini, seperti biasa terbangun dengan kaget (sudah setiap hari seperti ini, walaupun mempersiapkan diri untuk terbiasa, tapi sepertinya ini 'kaget' sudah merupakan bentuk 'bangun' dari 'tidur' *halah*). Ingin hati tidak segera beranjak dari kasur empuk dan selimut hangat, tapi nampaknya saya sudah terlalu banyak membuat kesalahan tahun 2011 ini (yah, memang baru berjalan 27 hari,tapi saya yakin saya sudah membuat banyak kenangan yang sama sekali tidak ingin saya kenang).

Tanggal 25 Jan 2011 adalah hari dimana nasib saya ditentukan oleh dua orang peng-interview. Saya mendaftarkan diri untuk mendapatkan Beasiswa Ke Australia sejak 6 bulan yang lalu (perjalanan yang cukup panjang untuk sampai ke tahap ini, dan belum-belum saya sudah tidak ingin mengulanginya lagi, saya lelah), pagi harinya saya sudah merasa bahwa wawancara ini tidak akan berjalan dengan baik, namun saya tetap berangkat dengan rasa takut yang entah mengapa sulit sekali saya hilangkan.

Singkatnya, wawancara saya berlangsung buruk, dan pada saat ditengah-tengah wawancara pun saya sudah tahu kalau saya akan gagal. Saya pasrah. Pada saat keluar ruangan untuk berjumpa dengan teman-teman 'senasib' di Hall, saya tiba-tiba saya teringat akan ayah saya (mulai sekarang dan selanjutnya akan ditulis dengan kata 'Papa'). Dulu, ketika untuk pertama kali saya diumumkan menjadi wakil Propinsi Jawa Timur di Ajang World School Debating Championship di Jakarta, saya sudah merasa bahwa saya akan gagal (which is, sama persis dengan wawancara Beasiswa saya), bedanya saat itu saya masih kelas 2 SMA dan sangat (sangat-sangat-sangat) berambisi.

Pertandingan tidak berjalan baik dan dua rekan saya (Ellien dan Yati = dua-duanya meneruskan sekolah S1 dan S2 di Jepang karena kepintaran di atas rata-rata air)mungkin kecewa karena saya sungguh dapat dibilang cuma 'nglawak' di sana. bahasa inggris saya hancur berkeping-keping, dan saya sama sekali tidak bisa berpikir (which is (lagi-lagi) sama dengan wawancara beasiswa ini). Lawan saya kala itu adalah para debaters dari SMA-SMA ciamik negeri ini (dalam wawancara beasiswa ini _sayangnya_ saya juga berhadapan dengan 'debaters' instead of interviewer).

Yah begitulah, mungkin saya harus banyak-banyak introspeksi diri, mungkin saya terlalu pede, mungkin saya terlalu banyak berkata 'well' dan lain-lain, dan lain-lain yang lain -halah-. Dulu saat kalah WSCD saya menelepon kerumah dan pada saat laki-laki di ujung telepon berkata "Assalamualaikum" air mata saya langsung mengalir. Saya menangis hanya karena mendengar suara Papa. Semakin tak tertahankan saat beliau langsung mengatakan "Ini Pipit ta?", sambil sesenggukan saya bilang "Waalaikumsallam, Iya Pa". Saya terdiam selama telepon berdurasi 3 menit itu selainnya hanya Papa yang berbicara panjang lebar, yang (kira-kira) seperti ini :

"Uwes talah Nduk, ga usah dipikir, kabeh wong yoh wes mesthi onok gagal e, kabeh iku onok masane. Sakjane kudu seneng, awakmu iku wes luwih beruntung dibandingno karo konco-koncomu sak Jawa Timur, sing dipilih mek telu lho, yeopo gak hebat, Papa wes seneng awakmu koyok ngene iki, masio gak menang ga dadi soal. Ojo dadi atimu. Ojo susah. Pengalaman iku yoh ancen ono sing ga enak, mosok enak terus, iso-iso menungso lali marang Gustine. Yowes nangis-nangis o sing banter, tak rungokno".

[udahlah, tidak perlu dipikirkan,semua orang pasti pernah mengalami kegagalan, semua itu ada waktunya. sebenarnya kamu harus senang, kamu sudah lebih beruntung dibandingkan dengan teman-teman sebayamu di Jawa Timur, yang dipilih cuma tiga lho, bagaimana tidak hebat. Papa sudah senang dengan dirimu yang seperti ini. Meskipun tidak menang tidak menjadi soal. jangan membuatmu sedih, jangan bersusah hati. pengalaman itu juga pasti ada yang tidak enak, masa' enak terus, bisa-bisa manusia lupa akan Tuhannya. Yasudah nangis aja yang keras, Papa dengarkan]

Efeknya, tidak membuat saya semakin kuat, malah tangis saya meledak (baik saya gunakan kata-kata ini untuk menggambarkan betapa memang mata saya seakan terlepas saking sakitnya).Papa saya terdiam di ujung sana, tidak berbicara sepatah katapun, tidak berusaha menghibur lagi, dia hanya terdiam, sedang saya terus saja menangis. Setelah tangisan saya mereda, Papa kembali bicara, "Uwes, lego durung, lek durung nangiso meneh, lek wes kesel ndang di toto awak e, wes ayo usaha meneh, lek menang yoh siap, lek kalah yoh siap, yowes, sukses yoh Nduk, Assalamualaikum". [sudah lega belum, kalau belum nangis lagi saja, kalau sudah , ayo cepat menata diri, berusaha lagi, siap untuk kemenangan, siap untuk kekalahan. Yasudah, sukses ya]

Jari tangan saya menyusur bawah mata saya yang basah, mengucap salam dan menutup telepon dengan hati yang entah mengapa begitu lega. Diluar kubik wartel berukusan kuburan itu saya sudah ditunggu oleh Almarhum Bapak Setiadi (guru bahasa inggris sekaligus pembimbing Club ECC -English Conversation Club- di SMA saya yang tidak pernah sepi gelar *I mean it*).

Saat itu pemenang dan peringkat belumlah diumumkan tapi saya sudah tahu bahwa tim saya tidak akan mendapatkan peringkat tinggi dan keluar sebagai wakil Indonesia di World School Debating Championship di Peru (kalau tidak salah saat itu). Karena proses pertandingan kami tidak berjalan baik. Kali ini wawancara saya juga tidak berjalan baik, hanya bedanya saya sama sekali pasrah terhadap keputusan Allah swt apapun itu, dan juga satu hal yang berbeda yaitu tidak ada Papa yang setia mendengarkan saya menangis dan dengan caranya yang unik menguatkan saya.

Tribute To Papa "Supariono Abdul Manan" 12 Juni 1951 - 1 April 2006.

Wednesday, 26 January 2011

mengganti nama

beberapa orang bertanya mengapa saya mengganti judul Blog saya dan terutama tentang apa yang saya telah pertimbangkan.

LA BREA TAR PITS bukan hanya judul salah satu chapter di novel yang saya tulis (jangan mencarinya di tokok buku, novel ini tidak layak publish) tentang kematian jiwa, bukan hanya raga. Kematian harga diri, kematian rasa malu, kematian rasa bertoleransi, kematian atas usaha untuk memberontak melawan yang bathil. saya tidak lebih hidup di tengah-tengah kematian yang hidup.

menurut Wikipedia :

For the tar pit in La Brea, Trinidad and Tobago, see Pitch Lake.

The La Brea Tar Pits (or Rancho La Brea Tar Pits) are a famous cluster of tar pits around which Hancock Park was formed, in the urban heart of Los Angeles. Asphalt or tar (brea in Spanish) has seeped up from the ground in this area for tens of thousands of years. The tar is often covered with water. Over many centuries, animals that came to drink the water fell in, sank in the tar, and were preserved as bones. The George C. Page Museum is dedicated to researching the tar pits and displaying specimens from the animals that died there. The La Brea Tar Pits are now a registered National Natural Landmark.

saya baru sadar bahwa betapa rasa penghargaan di negara ini sudah mati. tidak ada yang hidup di negara ini kecuali sistem yang bobrok dan hancur luar biasa. saya termasuk salah seorang jasad yang terapung terombang ambing di dalamnya. saya yakin anda juga?. Jika tidak maka, mengapa begitu banyak diantara kita yang tidak peka terhadap perubahan dan menghargai pola pikir orang lain.

saya heran, saya kesal, mengapa orang begitu tidak terbuka, mengapa begitu cepat mengkritik tanpa mengetahui esensi, begitu mudah berteriak.

saya namakan Blog ini 'la brea' sebagai tribut kekesalam saya terhadap sistem di negeri ini, sistem kacau yang terstruktur.

.adios.

DJ

Saturday, 15 January 2011

being smart

membacalah dan kau akan mengerti. bacaan membantumu membentuk imagi. imagi akan menuntunmu pada suatu keputusan. entah benar entah salah. di dunia ini tidak ada yang mutlak benar dan mutlak salah, kecuali Islam. jadi apa yang kau percayai adalah yang benar. dan selama kau berani membela apa yang benar, kau tidak perlu merasa takut untuk membuat kesalahan. karena kebebasan berpikir bermula dari kesalahan.

kita manusia kawan. kita hanya makhluk yang memiliki kedangkalan pikiran dan hati.terkadang kita menghadapi pilihan yang sulit dalam hidup. tapi dengan membaca peluang dan opini, paling tidak tidak kita mau mengetahui pemikiran orang lain. bukan hanya sekadar mencaci.

LPI dan ISL adalah pilihan liga. anda atau saya boleh memilih. boleh saling memaki. saya sudah memilih harus berada dimana, terlepas dari apapun, saya memiliki alasan. dan selama saya pikir alasan saya benar maka anda boleh bersama saya atau berseberangan. saya tidak perduli yang penting tujuan kita sama. memajukan sepak bola Indonesia dan menurunkan Nurdin berserta antek-antek busuknya.

jalan kita mungkin berbeda, saya menginginkan sepak bola yang lebih baik dengan mendukung 'breakthrough league' bernama LPI, dan mungkin anda menempuh jalan yang berbeda. tidak menjadi masalah. ini bukan saatnya suporter terpecah, kalaupun memiliki perbedaan pemikiran itu hal yang biasa bukan. ini yang membuktikan kedewasaan suporter Indonesia, tidak hanya lantang berteriak, tidak hanya kreative di lapangan, tetapi juga pintar.

dan mungkin menjadi yang terakhir itu yang sulit.

Tuesday, 11 January 2011

Jangan dengarkan ...

jangan dengarkan jika ada yang berteriak memintamu untuk berhenti.
jangan sesali jika kemudian jalannya tidak semudah yang kau pikirkan.
jangan berhenti meskipun kaki dan tanganmu bersimbah kepedihan.
karena jika rasa memiliki itu menyakitimu maka tidak ada hal lain di dunia ini yang mampu lebih sakit daripada itu.
maka kuatkan hatimu, dan teruslah melangkah.
karena berhenti sama dengan mati.
hidup itu bergerak, maka janganlah hati dan pikiranmu membeku karena takut.
jangan tutup matamu, jika sinar itu terlalu terang.
jangan tutup telingamu, walau suara itu membuatmu tuli.
jangan pernah berhenti bersuara, karena kebenaran itu bukan diam.

untuk orang-orang yang berusaha demi cinta untuk keluarga, sahabat dan apa yang dia percaya. semoga anda berhasil di seberang sana.

Lions, I do understand.

Bahtera kita sedang berguncang saudara satu jiwaku.
Bepeganglah pada yang kuat.
Carilah, berlarilah, gapailah sekuat tenagamu.
Jika bukan pegangan yang sekuat baja, apa lagi yang mampu menahan beban tubuh kita dari goncangan maha dasyat ini.

Arema bukan tim kemarin sore, bukan tim bau kencur, apalagi tim kelas bawah. Arema tim besar, tim dengan jutaan suporter fanatik, Arema itu seperti rumah, seperti tempat kembali bagi sebagian kita yang pergi. Arema bukan hanya sekali ini diguncang masalah. Keuangan yang carut marut dibumbui pemain yang datang dan pergi, tidak membuat Aremania dan Aremanita menyerah. Jatuh bangun, membuat tim ini seakan menjadi lebih solid. Dukungan moral dan doa dari ribuan pendukungnya, selain daripada itu tidak ada lagi yang menguatkannya.

Arema itu seperti pengalih massa. Dimana dia bertanding di situ ada Aremania. Seperti magnet, seperti gravitasi. Mengumpulkan serpihan-serpihan kecil Aremania dan Aremanita yang berserak. Logis, kita tidak boleh melihat medan gravitasi ini rusak, tidak bisa melihat magnet ini kehilangan dayanya. Apapun, untuk sesuatu bernama Arema, yang telah menyatukan jutaan jiwa menjadi satu, untuk tujuan persaudaraan dan rasa memiliki. Arema haruslah terus ada, dia harus terus menjejak bumi. Lambang singa itu harus terus berkibar, di langit dan di dada kami.

Arema kini tengah digoncang badai. Para pemain kita tidak kunjung mendapatkan hak-nya. Padahal mereka bukanlah pion, bahkan mereka bukanlah binatang di arena sabung ayam. Mereka manusia, sama seperti kita. Mereka memiliki keluarga yang harus terus hidup, mereka harus bahagia harus sehat harus tersenyum, agar semangatnya tertular kepada kita. Bukan nama besar tim, bukan pula lambang singa itu. Jika kita berpikir jauh lebih bijak, bukan hanya supporter, tetapi juga pemain dan pelatih lah yang membuat lambang singa itu terus berlari. Mereka yang menguras seluruh tenaganya agar singa kebanggan kita itu terus mengaum.

Kita senang melihat mereka berlari, kita senang melihat mereka menang. Tapi, lihatlah ke belakang, pada saat kita pulang dengan senang hati, kembali ke rumah kita yang hangat, menyeruput secangkir kopi, dengan mulut penuh dengan cerita kemenangan dan kebanggaan yang terus menerus di terputar di kepala. Para pemain mungkin memiliki cerita yang berbeda, apapun itu mereka perlu mendapatkan hak-nya, terlepas dari apa yang kita lihat.

Ada yang mengatakan bahwa, baik mungkin kita bukan fans dari pemain atau pelatih [sebut saja Njankamania, Alongmania atau Robertmania, Bustomers atau Wakaholic, apapun]. Saya hanya mengajak semua kawan satu jiwa untuk menjadi mereka. Marilah kita berpikir lebih dalam, bahwa kita memang Aremania tapi tanpa pemain, apa jadinya kita. Pemain mungkin bukan segala-galanya bagi sebagian anda, tapi mereka asset, sama seperti kita para supporter. Anda mungkin berpendapat bahwa pemain boleh datang dan pergi, namun dengan kondisi tim seperti ini, siapa yang anda kira akan datang untuk merumput bersama lambang singa ini lagi?.

Sebagian besar dari mereka bertahan setelah musim kemarin juga mengalami hal yang sama, apa yang mampu tim berikan untuk loyalitas mereka?. Suporter bukan hanya penyanyi di lapangan hijau, juga bukan penggembira dan hanya berhenti di level penyebar semangat. Suporter itu social control, kita memiliki kekuatan untuk merubah sesuatu. Pemain tidak bisa berteriak membawa spanduk di lapangan bola atau di depan kantor pengurus club, mereka atlet bukan buruh bangunan atau pegawai pabrik. Mereka memiliki lebih sedikit pilihan.

Saya sedih membaca berita pagi ini, Njanka keluar dari Arema, mungkin ini bukan berita besar. Tapi dia itu motor penggerak yang merubah pemikiran Noh Alam Shah dan Ridhuan untuk kembali ke Arema setelah pinangan Sriwijaya awal musim ini. Kini kita kehilangan motor, siapapun Njanka, dia pemain penting. Saya tidak mampu membayangkan jika Ahmad Bustomi, Beny Wahyudi dan Kurnia Meiga menyusul langkah Njanka, hanya karena alasan gaji, sungguh ironi. Tim sebesar Arema, tak mampu membayar gaji pemain.

Kita masih punya banyak stok pemain, sebut saja Purwaka Yudhi, Rony Firmansyah, Fakhrudin, Waluyo, Esteban dan yang lainnya, jujur saya tidak memiliki cukup cara untuk menghentikan niat mereka jika ingin merumput di ladang lain. Saya heran mengapa orang mengira bahwa kehilangan pemain itu hal yang gampang. Mungkin ini berlaku bagi tim lain yang kemudian mampu membeli pemain lain dengan kualitas sama atau bahkan lebih bagus, namun dengan kondisi keuangan Arema, kita akan mencari pemain dimana?. Saya bersedia untuk masuk Arema tanpa dibayar, tapi siapa saya, saya bukan pemain sepak bola. Ini bukti bahwa ternyata semangat saja tidaklah cukup untuk membuat Arema tetap berlari.

Pemain itu penting, sama pentingnya seperti anda dan saya. Saya menekankan pada betapa ini masalah besar, bukan hanya isapan jempol belaka. Perubahan tidak bisa menunggu, manajemen Arema harus di rombak. Manajemen itu harusnya sekumpulan orang pintar bukan hanya politikus yang sama sekali tidak mencintai sepak bola.

Saya tidak takut, saya melawan. Mereka menggunakan Arema sebagai wadah politik kotor, mereka menggunakan Arema sebagai alat propaganda sosial. Apa lagi yang lebih jahat dari orang yang mengambil kesenangan dan kebanggaan supporter dari olahraga yang dicintainya.

Berlarilah singa-singaku, jika itu membuatmu terus hidup.
Tersenyum sajalah, kami lebih dari sekadar mengerti.
Keringat yang tidak dibayar itu dzalim.

Monday, 10 January 2011

saya tahu rasanya

saya memegang 11 tiket kelas II, titipan teman-teman sesama Aremania yang sengaja meluangkan hari Minggu nya untuk menonton pertandingan sepak bola Arema vs Persija di GBK Main Stadium. Menonton Arema bertanding bagi kami orang Malang yang mengadu nasib di luar Malang, bagai pulang kampung gratis. Jadi hasrat kami cuma tiga, bertemu Aremania lain, mendukung Arema dan menikmati pertandingan. Itu saja.

Pertandingan dimulai pukul 15.30an, tapi kami (seperti biasa) stand by di depan pintu masuk sejak pukul 14.00. 45 menit sebelum pertandingan dimulai kami baru masuk stadion, tidak seperti laga Timnas dengan banyak orang yang mendadak "fans", laga kali ini terbilang sepi, jadi kami masih bisa santai memilih tempat duduk.

Aremania Gate 8-9 (seperti yang tertera di tiket kami), tetapi kami memutuskan untuk masuk ke Gate 10-11 an (atau Tribun 20-21) yang ternyata merupakan tempat Aremania terkonsentrasi, hanya 4 lajur tribun kelas dua (dibelakang Torch) yang penuh Aremania, sisanya menyebar. Sisi berlawanannnya, yang kami bisa lihat hanya lautan Oranye, tak apa ini kandang Persija, hati saya tidak boleh kecil karenanya.

Jika anda membaca tulisan ini dan berharap menemukan kilas balik pertandingan, anda salah besar. Jadi berhenti saja membaca (jika itu tujuan anda) sebelum anda kecewa.

Kamipun mulai bernyanyi, Sam Yuli sudah berdiri di depan, dan kami siap jiwa raga untuk mendukung Arema. Pemain pemanasan, dan salam "Goyang" pemain yang saya nantikan tidak se "hot" biasanya. Perasaan saya sudah tidak enak, ada yang lain, tapi saya tidak mampu memutuskan itu apa.

Starting Line Up keluar dan saya girang bukan kepalang. Baik, berhenti sampai di sini,tidak ada yang mampu mengalahkan Line Up ini sebelumnya > KMH [1], Njanka [24], Purwaka [2],Waluyo [27], Beny [7], Bustomi [19], Revi [77], Ridhuan [6], Esteban [17], Roman [9], Noh Alam Shah [12]. Saya berani bertaruh, ini Line Up terbaik yang dimiliki Arema saat ini.

Kick Off, pertandingan tidak berjalan baik bagi kami. Keras, dan sedikit brutal. Beberapa diving kotor dan tackling sembarangan di biarkan saja oleh wasit. Saya bukan pengamat sepak bola profesional, saya hanya suporter kelas kambing yang bahkan tidak mampu membeli tiket VIP, tapi saya yakin saya tahu mana yang disebut wasit adil dan mana yang tidak.

Seperti di hantam godam, kepala saya memaksa saya kembali ke beberapa waktu silam. Laga Final Piala Indonesia - Arema versus Sriwijaya - yang berakhir dengan kemenangan Sriwijaya FC. Along kartu merah dan keluar dengan 'indahnya' dari lapangan, menyisakan 10 pemain yang terbengong-bengong, menyisakan sakit luar biasa di dada suporter. Alasannya, kaki Along 'terlalu' tinggi, beberapa saat kemudian kaki Precious 'bersarang' di pipi Roman. NO CARD. Yess, wasit memang hebat.

Lain laga lain cerita. Community Shield, yang mempertemukan Arema kembali dengan Sriwijaya. Hasilnya Arema kalah, tapi bukan itu persoalan yang mengganjal di hati saya. Arema mendapatkan 'hadiah' penalty itu yang menjadi ganjalan. Saya bahkan tidak bisa tersenyum saat Njanka menjebol gawang lawan, saya bahkan tidak bersorak. Di kamar 3x4 tempat kos saya itu, saya hanya bisa duduk termangu. Oh tidak, bukan ini yang saya harapkan dari Njanka, bukan gol seperti ini yang saya harapkan datang dari kaki-kaki singa kami. Kami dapat satu gol, tapi rasa ini tidak membuat saya berteriak 'YESSSSSSSSSSSSSS'. saya sedih. Saya hanya tidak ingin kejadian ini terulang lagi hari ini, tapi ini salah saya.

Saya salah karena berharap terlalu banyak pada kompetisi ini. Orang bilang, ini kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia, dan harus saya akui 'kasta tinggi' memang penuh gengsi. Tapi sepak bola bukan masalah gengsi, ini masalah hiburan masyarakat. Ini masalah kejujuran, masalah menjadi profesional. Kompetisi ini membuat sepak bola Indonesia tidak memiliki masa depan, mempermalukan keprofesionalan pemain dan wasit. Saya seharusnya sadar, saya tengah menghadiri kompetisi macam ini, seharusnya saya sudah siap dengan jargon "HARI INI SIAPA YANG DIBELA WASIT", "HARI INI MILIK SIAPA", "HARI INI SIAPA KUAT BAYARIN ROKOKNYA WASIT", "HARI INI SIAPA YANG 'HARUS' KALAH", dan "HARI INI KANDANG SIAPA". Seharusnya saya tidak boleh lupa dengan semua ini.

Jangan terbuai dengan kemenangan beruntun di AFF, jangan senang dan bangga dengan baju bertuliskan Gonzales atau mungkin angka 17 tertera dengan indahnya di punggung anda. Perjalanan Indonesia masih jauh, dan bahkan kita belum mampu menapak tangga pertama. Kompetisi nasional kita masih amburadul, kualitas wasit kita hancur. Sampai kapanpun kita akan tetap di sini, berjalan di tempat, tidak kemana-mana.

Ketika Persija mengalahkan Singa Gila kebanggaan saya itu pun pada akhirnya, saya tidak mengerti harus mengucapkan selamat dan tertawa bersama ataukah saya harus marah karena kejadian tidak mengenakkan di lapangan selama 90 menit lebih tadi. Tapi The Jak saudara saya, mereka menerima orang-orang beratribut Arema dengan baik di kota mereka, dan selain rasa terima kasih yang dalam, saya tidak tahu harus bicara apa lagi. Tapi sesuatu mencabik hati saya dari dalam, Tim kesayangan saya di pecundangi, bukan salah pemain (baik Persija maupun Arema) mereka hanya bermain (terlepas dari skenario apapun yang terselip di belakangnya. Wasit menodai rasa persaudaraan ini. Tidak ada persaudaraan di sepak bola, terlebih di kompetisi ini. Apa yang saya cari, apa yang anda cari. Kemenangan, kebanggaan, rasa memiliki, itu semua bisa diatur. Perasaan anda dan saya bisa dipermainkan beberapa orang di meja 'PENGURUS'.

---
Saya dan beberapa The Jak [Kami bersaudara]

saya dan gank Aremania

---
Saya yakin, bukan ini yang anda cari. Sama seperti ketika saya memutuskan untuk memesan tiket laga ini jauh-jauh hari, mengosongkan semua jadwal, mengatur rencana dengan teman-teman. Apalagi bagi sebagian Aremania yang mengorbankan waktu dan tenaga untuk jauh-jauh datang dari Malang hanya untuk menyorakkan dukungan. Kami hanya ingin menonton pertandingan dengan hati senang. Bukan kemenangan yang kami cari. Semua Aremania dan Aremania sudah hapal mati tentang ini, kami bukan suporter baru yang marah karena kalah. Menang kalah bagi kami sudah biasa, ini pertandingan dan kami mengerti.

Sepanjang sisa babak kedua tangan saya tidak berhenti mengepal, mata saya dan tunangan saya yang duduk disebelah saya menerawang, kami berpikir. Kami berteriak berkali-kali memanggil nama wasit, pelanggaran demi pelanggaran terjadi, dan pria berbaju kuning itu tak bergeming, seakan-akan tidak memiliki hati, tidak memili nurani. Dia meliat pelanggaran, dia mendengar teriakan kami, tapi dia tidak memasukkannya dalam hati. Bagaimana bisa, jika hati pun mungkin mereka tidak punya. Di kompetisi seperti inikah Arema kami harus berakhir. Mulut saya dan teman-teman tidak berhenti merapal doa, agar pemain kami jauh dari cidera, permainan berjalan lancar dan kami menang. Tidak berhenti bernyanyi, tidak berhenti berdoa, tidak jera kami mendukung, tapi inikah yang harus diterima tim kebanggaan kami?.

Jangan marah kawan, saya tahu rasanya, sudahlah saya mengerti. Beberapa anda yang membaca yang pernah di 'pecundangi' Arema dengan 'hadiah-hadiah' nya yang tidak bisa saya pungkiri, saya meminta maaf. Saya mengerti rasanya, keluar dari stadion dengan langit yang semakin gelap dengan ribuan tanda tanya berkelebatan di kepala. Saya mengerti rasanya jika anda ingin menghajar wasit saat itu juga. saya mengerti perasaan anda, karena kita suporter dan saya merasakannya juga.

saya bukan orang yang memiliki akses khusus ke dalam tim-tim sepakbola nasional kita. saya pun bukan official tim, panpel, dan apapun yang terhubung dengan tim dan tetek bengeknya. saya cuma suporter, pekerjaan saya mendukung, terlebih dari pada itu pekerjaan saya adalah mengamati dan menganalisa.

saya bosan. sepak bola bukan permainan satu dua orang, ini milik pemain di lapangan, ini milik suporter, berilah kami wasit yang jujur, wasit yang mampu menjaga hati nuraninya. sepak bola itu game, dan game dimainkan tanpa emosi tanpa tendensi. Game dimainkan dengan rasa senang, di tonton dengan enjoy, have fun dan setiap momen harusnya jadi a good time.

game
dimainkan apa adanya, harusnya tanpa skenario. saya kemudian berpikir, mungkin laga pertama liga sebelah masih disiarkan secara amatir, mungkin juga masih tidak mampu menyuguhkan pertandingan 'seimbang' antara kedua belah tim. tapi mereka bermain dengan senang, tiket sold out, suporter pulang dengan "tepuk di hati" yah kami kalah karena pemain kami bermain tidak cukup bagus atau yah kami menang karena pemain kami memang spektakuler. Wasit jujur, pemain jujur. itu awalnya. bahkan awal dari semuanya.

JUJUR ITU YANG TERPENTING DALAM PERMAINAN, KECUALI ANDA TERGOLONG ORANG-ORANG YANG MAU TERUS DIBOHONGI DAN ATAU MEMBOHONGI DIRI SENDIRI.

.adios.

DJ

tweets kesukaan saya pagi ini
@mrsnugrah > "pemain itu aset bangsa bukan Pak.katanya anda sayang mereka.tapi anda biarkan mereka terjatuh secara mental dilapangan krn wasit anda bodoh"

Monday, 29 November 2010

memenuhi risiko

hidup adalah memenuhi risiko
itu yang bisa saya katakan setelah seharian kemarin melakoni aktifitas yang membuat saya terbaring sakit sekarang.
risiko dari menolong anak-anak Jessup 2010 adalah beban pikiran saya bertambah. Risiko dari nekat makan sambel goreng ati pedas adalah perut saya berontak.Risiko dari mengambil keputusan ke 711 adalah saya kena semprot pacar gara-gara bikin ribet dia jemput.Risiko dari nonton adalah saya tidak sanggup mengangkat telepon.
apalah daya, saya selalu saja salah memahami bahwa hidup itu memenuhi risiko. mulai dari yang kecil hingga yang besar. saya bisa saja melupakan setiap detil kejadian yang saya alami, tapi risiko itu seperti jalinan benang yang saling bertautan. setiap detik kita selalu dipaksa untuk membuat keputusan atas hasil keputusan yang lain.
Namun saya tahu bahwa anda tidak hidup jika sama sekali tidak mengambil risiko. jika hidup adalah risiko itu sendiri, bagaimana anda bisa menolaknya. Jangan berharap bahwa tidak berbuat apa-apa berarti anda bebas risiko.
Memutuskan untuk tidak berbuat sama dengan memutuskan untuk berbuat diam. Risiko akan selalu ada meskipun itu tindakan teraman dan terlogis yang bisa anda pikirkan saat itu.
risk is life, jadi saya tidak setuju terkadang dengan istilah 'risk your life' yang dianggap buruk. Padahal setiap saat kita melakukannya, kita tidak tahu kapan kita mati, tindakan teraman pun dapat berakibat buruk.
ahh...memang risiko dari niat baik adalah tidak mendapatkan balasan seperti yang diharapkan.
tapi saya akan ambil risiko itu,karena saya sudah memutuskan bahwa niat baik itu adalah investasi yang saya titipkan kepada Allah swt, dan saya tidak takut merugi.

.adios.

DJ

Monday, 15 November 2010

Future Atlet

saya yang mengantarkan dia berlatih badminton sejak kelas 1 SD. saya yang biasanya memasukkan air ke dalam botol minumannya. saya yang biasanya membantunya mengepak raket, handuk, sepotong roti dan beberapa permen kesukaannya agar dia mau berlatih di sekolah bulu tangkis.

jarak rumah kami ke sekolah bulu tangkis memang tidak terlampau jauh, cukup 15 menit menggunakan angkutan umum. kelas 3 SD, pekerjaan saya berkurang satu, saya tidak harus mengantarkannya lagi.

Ilham Muhammad Kevin
, kini kelas 6 SD dan masih terus berlatih badminton. Berkali dia mencoba untuk lepas dari olahraga ini, dia ingin menjadi seorang pemain bola, Kiper lebih tepatnya. Kurnia Meiga Hermansyah, adalah idolanya dan juga adiknya (yang lebih beruntung karena mengantongi ijin orang tuanya untuk masuk ke sekolah sepak bola).

Uin, kami semua memanggilnya, tumbuh begitu cepat, kelas enam SD dan tingginya hampir melampaui saya yang 24 tahun. Sempat gentar karena kekalahan dalam pertandingan antar club, sempat tidak mau berlatih badminton lagi, dan sempat mengatakan bahwa dirinya hanya ingin "maen bola". Hingga kini yang dia tahu adalah bahwa ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, dia harus mengepak tas dan pergi ke GOR untuk berlatih.

menang, berprestasi membuat Uin dipanggil untuk masuk Pelatnas di Cipayung. Kelas 6 SD dan ini sebuah awal yang gemilang bagi atlet badminton. Semua, termasuk saya pada saat itu ingin dia masuk Pelatnas. Tapi sayang kedua orang tuanya tidak mengizinkan, dan Kevin tidak jadi berangkat. Tawaran itu ditolak, dengan alasan sekolah Uin harus nomor satu. Jika pelatnas adalah rejeki Uin, Insyaallah tawaran itu akan datang lagi. Dan pria kecil itu menerima dengan tanpa beban.

dua minggu berselang, Kevin menelepon saya mengatakan bahwa dia ingin sekali pergi ke Jakarta (Cipayung. red). saya bimbang, sepertinya dia ingin sekali pergi tapi tak kuasa menolak larangan kedua orang tuanya. waktu itu saya hanya bisa bilang " Sabar yo Le, Insyaallah nanti pasti bisa ke Jakarta, kalo Kevin sudah SMP kelas tiga" , dan tanpa dinyana, dia mengatakan "iya mbak, nanti SMP kelas 3 aku ke sana yah".

hati saya miris, sebagai calon atlet, kevin sudah mengantongi hal terpenting. Tekad. dan saya berdoa supaya apa yang dia cita-citakan akan terlaksana.

hari ini, entah mengapa saya berpikir bahwa mungkin Kevin harus berpikir ulang untuk menjadi seorang atlet. masa depan dan segalanya. Efek selebritas, dan saya hanya berpikir bahwa sepertinya kami mencintainya lebih dari hanya melakukan apa yang dia inginkan.

atlet badminton. saya akan bangga melihatnya di TV menang melawan China. Tapi saya jauh lebih senang melihatnya rendah hati dan mengenal saya sebagai tante-nya yang pernah menyiapkan botol minuman.

jumawa, itu yang saya takutkan.

.adios.

DJ

Saturday, 13 November 2010

tears

Air mata, mengapa selalu datang. Tangis, mengapa tak bisa kuhindari. memaafkan, sebelum kau meminta. hanya itu hal terbaik yang bisa aku lakukan.

.adios.


DJ