saya tidak bisa berhenti memandang-mandangi foto saya dengan calon suami saya ketika teman saya Agung dan Indra (keduanya berperan sebagai fotografer pre-wed dadakan saya) mengirimkan hasil jepretan mereka yang menurut saya W.O.W. Tidak terbayangkan. Hasilnya sungguh diluar dugaan, dengan skill, kamera bagus dan editan ciamik, model kelas kambing seperti saya dan calon suami pun jadi indah.
Lokasi ini saya yang menentukan (alias saya tidak punya perbendaharaan yang cukup bagus mengenai tempat-tempat indah di Jakarta yang biasanya dijadikan lokasi, akhirnya saya memilih Monas). Apaaa?? MONAS. M.O.N.A.S !!! yah anda benar, saya dan calon suami di potret di Monas, mulai pukul 09.00 - 12.00 WIB.
Sebelumnya (menurut kesepakatan) sesi foto ini adalah gladi bersih alias latihan, foto pre-wed nya sendiri di gelar dengan baju yang lebih resmi (ren-ca-na-nya), tapi tohh akhirnya tidak jadi dilaksanakan karena menurut saya gaya-gaya ini sudah tidak bisa diulang lagi.
Berangkat ke lokasi, saya sudah pesimis duluan. Saya dan calon suami bukanlah orang-orang yang fotogenic, suka di foto iya, tapi yaaaaaaaah hasilnya yahh begitu itu. Tampang pas-pas an dan postur yang tidak menunjang. Saya pesimis foto ini akan memperburuk suasana resepsi pernikahan dan membuat orang tidak selera makan.
Tapi setelah di utak-utik dengan teknik dan tiki-taka khas Barcelona FC, saya kagum dengan kemahiran duet maut sang fotografer, berikut link FB yang bersangkutan Agung Kurniawan dan Indra Budi .
Berikut adalah foto-foto yang akan menjadi kenangan seumur hidup saya, menjadi warisan berharga anak dan cucu, menjadi penghias dompet, kamar tidur, desktop background, dan pajangan meja kerja. Terima kasih kepada dua sahabat.
silahkan menikmati skill Agung dan Indra ini ^^b
begitulah, acara latihan memotret itu akan menjadi kenangan di sepanjang hidup saya. dengan kesabaran tingkat tinggi para fotografer itu, akhirnya saya dan calon suami bisa mendapatkan foto yang bagus dan sangat natural look.
That's all, salah dua dari foto ini akan dipilih untuk dipajang pada saat resepsi tanggal 25 Juni 2011 nanti. ^^b ihihhh akhirnya saya punya foto yang tidak memalukan untuk dipajang. thanks to Agung dan Indra.
Thanks to my love partner @mrnugrah .
"Better to write for yourself and have no public, than to write for the public and have no self." Cyril Connolly
Tuesday, 14 June 2011
Monday, 13 June 2011
SAYA MENIKAH
saya sangat senang menyadari bahwa pernikahan saya tinggal menghitung hari. dan begitu pula saya menginginkan mem-posting undangan pernikahan sederhana saya ini dimana-mana, agar ketika flesdis ato lappie ato kompie ato apalah tempat saya menyimpang soft-file undangan pernikahan saya ini rusak dan file itu tiba-tiba hilang, saya masih punya jutaan copy di dunia maya.
ini adalah cover depannya
ini bagian akad nikahnya
ini bagian pentingnya, jadwal resepsi dan siapa yang nikah ^^b
ini peta, biar tamu ga nyasar ^^b
well, setelah 7 tahun menunggu rejeki terkumpul akhirnya kesampaian juga menikah, dengan orang yang sama, dengan cita-cita bersama yang juga masih sama. nampaknya Allah swt mentakdirkan saya berjodoh dengannya. ^^b
Happy June, happy my Wedding Month.
ini adalah cover depannya
ini bagian akad nikahnya
ini bagian pentingnya, jadwal resepsi dan siapa yang nikah ^^b
ini peta, biar tamu ga nyasar ^^b
well, setelah 7 tahun menunggu rejeki terkumpul akhirnya kesampaian juga menikah, dengan orang yang sama, dengan cita-cita bersama yang juga masih sama. nampaknya Allah swt mentakdirkan saya berjodoh dengannya. ^^b
Happy June, happy my Wedding Month.
Monday, 6 June 2011
Man Jadda Wa Jada (2)
Bukaaann orangg Malang kalau menyerah di tengah jalan, bukaaaaan anak Bapak Ibuku kalo aku sampai putus asa.
Ceritanya Badan Kebijakan Fiskal, tempatku bekerja di Depkeu (sekarang Kemenkeu) adalah tempatnya orang-orang rajin sekolah, alias di sini ini orang kalau mau maju harus sekolah. Beasiswa rebutan kayak makanan kelas dewa. Yaa Rabb, kalau ndak kuat bisa ketinggalan ini.
Beasiswa pertama adalah Dual-Degree UGM-Georgia Uni di Amerika, kami pegawai yang saat itu masih idealis-idealisnya di haruskan ikut, melewati serangkaian tes (yang bagi saya termasuk diantaranya tes mental dan kesabaran batin).
Saya sudah menekankan diri saya, tidak akan ada yang berubah dari diri saya meskipun saya berpindah habitat. Saya tetap canggih yang culas, apa adanya, ngomong yang mau saya omong, dan spade to spade, saya selalu merasa jika ada orang yang membenci atau menyukai saya biarlah mereka melihat saya apa adanya. Tapi ternyata BKF ini kebanyakan orangnya hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat. Baiklah saya sukses jadi public enemy sang Kepala Badan di tahun pertama. Sampai saat ini saya masih ingat sebutan-nya untuk saya. ANOMALI dan TIDAK PUNYA MANNER dan TIDAK BEHAVE. Well, saya sedih tapi saya bukan orang lain, saya bukan bayangan siapa-siapa, jadi saya tetap saja melaju tanpa ‘tergores’ sedikitpun, walau banjir air mata berkali-kali sedih mengingatnya.
Saya diterima di beasiswa Dual Degree itu, namun saya menolak karena beasiswa itu untuk jurusan ekonomi dan saya tidak mau belajar apa yang tidak saya suka hanya demi “takut gak dapat beasiswa lagi” atau karena “demi memberi image anak buah patuh” atau apalah. Penolakan saya berbuntut cercaan, yahh kalau yang ini saya sudah tebak. Pil pahit, dengan beban saya harus bisa diterima beasiswa lain tahun depan (walau pada saat itu saya juga tidak yakin).
Teman-teman berangkat hampir separuhnya, mati langkah, bimbang, mungkinkah keputusan menolak itu benar. Ok, akhirnya saya bersama teman yang tersisa ikut seleksi beasiswa Australia ADS. Saya ikuti saja dengan sabar seluruh prosesnya, panjang dan melelahkan, terutama untuk saya yang duit pas-pasan, bolak-balik les IELTS Kuningan-Senen cukup menguras isi dompet (untung waktu itu ada salah seorang teman yang berbaik hati menawarkan diri membonceng saya di motor mio-nya). Setelah bulan demi bulan yang berbusa-busa itu, sampailah saya di tahap wawancara, dannnnn setelah begitu optimisnya, saya ‘keseleo’ lidah, hanya karena berusaha jujur, apa adanya, ternyata saya masih saja belum belajar banyak, bahwa orang-orang hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat. Jadii, yahhh saya harus bersabar karena saya tidak berhasil dapat ADS (walau dilalui dengan simbah air mata dan mengutuk diri sendiri berkali-kali). Sampai saat ini, jika ada yang menyebut kata ADS, saya masih suka trauma (lebaiii).
Singkat kata, saya seperti orang kesetanan, mendaftar Chevening dan Stuned, mencari Universitas, mendaftar, men-check email tiap hari, bergadang menyelesaikan letter of statement, bikin reference untuk di kirimkan ke email dosen-dosen dan bos di kantor, mengisi formulir-formulir, jungkir balik berdoa, huff. Intinya, kerja keras saya pada saat itu saya dedikasikan hanya agar saya lupa sakit hati karena ADS.
Sinyal pertama, saya di panggil wawancara Chevening (dibumbui dengan taksi pesanan yang terlambat datang, tenggorokan kering, dan aksen medhok saya yang gak bisa hilang, dan rasa kantuk karena melatih speaking sampai malam), daaaaaaaaaaan setelah menunggu lama (bulan-bulan penuh keputusasaan)saya diterima Cheveniiiiiiiiiiiiiinggg, alhamdulillaaaaaaaaaah. Tapi saya belum dapat sekolah di Inggris, ouch ternyata perjuangan saya belum berakhir.
Sinyal kedua, aplikasi StuNed saya (yang harus saya antar sendiri ke NESO, berpanas-panas karena gak punya duit naik taksi, dan manyun tingkat dewa karena perpus-nya gak ada orang dan mbak resepsionisnya dieeeem banget). Lama nunggu, akhirnya keputusan itu datang juga, saya diterimaaaaaaaaaaa. Tapi, saat itu saya sudah bilang ‘IYA’ dengan Chevening. Duhh Gustiii.
Sinyal ketiga, saya bingung ketika dua-duanya diberikan. Chevening ternyata tergolong beasiswa mandiri yang intinya belum terdaftar di administrasi kantor tapi kereeeeenn ke Inggris, Stuned administrasi beres tapiii Belanda. Bingung. Cobaan lagi.Berminggu-minggu tidak enak makan, tidak enak tidur demi diterima di universitas Inggris yang sulitnya ampun-ampunan, saya harus merelakannya karena administrasi kantor yang tidak beres. Namun, Allah swt tidak ingin saya bersedih dan jatuh dalam lembah keputusasaan lebih lama lagi. Dia memberi saya peluang untuk memilih dan belajar menjadi bijak, yaitu StuNed.
Setelah berpikir dengan tingkat intelejensia amoeba yang saya punya, akhirnya saya memilih ke Belanda dengan berbagai macam alasan prinsipil.
Tapi saya bahagia, bahwa keyakinan saya terlaksana pada akhirnya. Tidak ada yang kurang sedikitpun. Semuanya dibayar lunas oleh Allah swt, saya senang walaupun ada sedikit masalah di sana-sini. Insyaallah dengan mudah segera teratasi. Bulan ini bulan berkah, terima kasih Yaa Rabb, bulan ini aku menikah, mendapatkan pria terbaik dengan kesabarannya yang luar biasa dan keputusan terbaik dariMu.
Gagal itu selalu ada, jangan menyerah. Allah swt bukan tidak mendengar doa kita, Dia tahu yang terbaik. Percayalah.
MAN JADDA WA JADA + MAN SHABARA SAFIRA = SUKSES, Insyaallah ^^b
Ceritanya Badan Kebijakan Fiskal, tempatku bekerja di Depkeu (sekarang Kemenkeu) adalah tempatnya orang-orang rajin sekolah, alias di sini ini orang kalau mau maju harus sekolah. Beasiswa rebutan kayak makanan kelas dewa. Yaa Rabb, kalau ndak kuat bisa ketinggalan ini.
Beasiswa pertama adalah Dual-Degree UGM-Georgia Uni di Amerika, kami pegawai yang saat itu masih idealis-idealisnya di haruskan ikut, melewati serangkaian tes (yang bagi saya termasuk diantaranya tes mental dan kesabaran batin).
Saya sudah menekankan diri saya, tidak akan ada yang berubah dari diri saya meskipun saya berpindah habitat. Saya tetap canggih yang culas, apa adanya, ngomong yang mau saya omong, dan spade to spade, saya selalu merasa jika ada orang yang membenci atau menyukai saya biarlah mereka melihat saya apa adanya. Tapi ternyata BKF ini kebanyakan orangnya hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat. Baiklah saya sukses jadi public enemy sang Kepala Badan di tahun pertama. Sampai saat ini saya masih ingat sebutan-nya untuk saya. ANOMALI dan TIDAK PUNYA MANNER dan TIDAK BEHAVE. Well, saya sedih tapi saya bukan orang lain, saya bukan bayangan siapa-siapa, jadi saya tetap saja melaju tanpa ‘tergores’ sedikitpun, walau banjir air mata berkali-kali sedih mengingatnya.
Saya diterima di beasiswa Dual Degree itu, namun saya menolak karena beasiswa itu untuk jurusan ekonomi dan saya tidak mau belajar apa yang tidak saya suka hanya demi “takut gak dapat beasiswa lagi” atau karena “demi memberi image anak buah patuh” atau apalah. Penolakan saya berbuntut cercaan, yahh kalau yang ini saya sudah tebak. Pil pahit, dengan beban saya harus bisa diterima beasiswa lain tahun depan (walau pada saat itu saya juga tidak yakin).
Teman-teman berangkat hampir separuhnya, mati langkah, bimbang, mungkinkah keputusan menolak itu benar. Ok, akhirnya saya bersama teman yang tersisa ikut seleksi beasiswa Australia ADS. Saya ikuti saja dengan sabar seluruh prosesnya, panjang dan melelahkan, terutama untuk saya yang duit pas-pasan, bolak-balik les IELTS Kuningan-Senen cukup menguras isi dompet (untung waktu itu ada salah seorang teman yang berbaik hati menawarkan diri membonceng saya di motor mio-nya). Setelah bulan demi bulan yang berbusa-busa itu, sampailah saya di tahap wawancara, dannnnn setelah begitu optimisnya, saya ‘keseleo’ lidah, hanya karena berusaha jujur, apa adanya, ternyata saya masih saja belum belajar banyak, bahwa orang-orang hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat. Jadii, yahhh saya harus bersabar karena saya tidak berhasil dapat ADS (walau dilalui dengan simbah air mata dan mengutuk diri sendiri berkali-kali). Sampai saat ini, jika ada yang menyebut kata ADS, saya masih suka trauma (lebaiii).
Singkat kata, saya seperti orang kesetanan, mendaftar Chevening dan Stuned, mencari Universitas, mendaftar, men-check email tiap hari, bergadang menyelesaikan letter of statement, bikin reference untuk di kirimkan ke email dosen-dosen dan bos di kantor, mengisi formulir-formulir, jungkir balik berdoa, huff. Intinya, kerja keras saya pada saat itu saya dedikasikan hanya agar saya lupa sakit hati karena ADS.
Sinyal pertama, saya di panggil wawancara Chevening (dibumbui dengan taksi pesanan yang terlambat datang, tenggorokan kering, dan aksen medhok saya yang gak bisa hilang, dan rasa kantuk karena melatih speaking sampai malam), daaaaaaaaaaan setelah menunggu lama (bulan-bulan penuh keputusasaan)saya diterima Cheveniiiiiiiiiiiiiinggg, alhamdulillaaaaaaaaaah. Tapi saya belum dapat sekolah di Inggris, ouch ternyata perjuangan saya belum berakhir.
Sinyal kedua, aplikasi StuNed saya (yang harus saya antar sendiri ke NESO, berpanas-panas karena gak punya duit naik taksi, dan manyun tingkat dewa karena perpus-nya gak ada orang dan mbak resepsionisnya dieeeem banget). Lama nunggu, akhirnya keputusan itu datang juga, saya diterimaaaaaaaaaaa. Tapi, saat itu saya sudah bilang ‘IYA’ dengan Chevening. Duhh Gustiii.
Sinyal ketiga, saya bingung ketika dua-duanya diberikan. Chevening ternyata tergolong beasiswa mandiri yang intinya belum terdaftar di administrasi kantor tapi kereeeeenn ke Inggris, Stuned administrasi beres tapiii Belanda. Bingung. Cobaan lagi.Berminggu-minggu tidak enak makan, tidak enak tidur demi diterima di universitas Inggris yang sulitnya ampun-ampunan, saya harus merelakannya karena administrasi kantor yang tidak beres. Namun, Allah swt tidak ingin saya bersedih dan jatuh dalam lembah keputusasaan lebih lama lagi. Dia memberi saya peluang untuk memilih dan belajar menjadi bijak, yaitu StuNed.
Setelah berpikir dengan tingkat intelejensia amoeba yang saya punya, akhirnya saya memilih ke Belanda dengan berbagai macam alasan prinsipil.
Tapi saya bahagia, bahwa keyakinan saya terlaksana pada akhirnya. Tidak ada yang kurang sedikitpun. Semuanya dibayar lunas oleh Allah swt, saya senang walaupun ada sedikit masalah di sana-sini. Insyaallah dengan mudah segera teratasi. Bulan ini bulan berkah, terima kasih Yaa Rabb, bulan ini aku menikah, mendapatkan pria terbaik dengan kesabarannya yang luar biasa dan keputusan terbaik dariMu.
Gagal itu selalu ada, jangan menyerah. Allah swt bukan tidak mendengar doa kita, Dia tahu yang terbaik. Percayalah.
MAN JADDA WA JADA + MAN SHABARA SAFIRA = SUKSES, Insyaallah ^^b
Man Jadda Wa Jada (1)
Baru dua bulan yang lalu saya menangis-nangis membaca novel Man Jadda wa Jada dan sekuelnya Man Shabara Safira, sekarang terbayar lunas (meminjam kata sang penulis Bang Fuadi).
Hanya sebuah kata dalam bahasa Arab, namun maknanya bisa membuat saya kuat tidak tidur sampai jam 4 pagi hanya untuk menyelesaikan Statement of Motivation dan begitu dasyat membuat tubuh saya yang pemalas ini bangun untuk sholat malam dan puasa Senin- Kamis.
“Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil” . “Siapa yang bersabar akan beruntung”. Seperti ditunjukkan begitu saja oleh Allah swt, tanpa diminta. Sejak saat itu, saya tahu Allah swt tidak membawa saya sampai sejauh ini untuk meninggalkan saya. Pasti ada maksud, pasti ada hikmah, dan saya berhasil meyakinkan diri saya bahwa Allah swt itu ada untuk semua hambaNya yang mau berusaha dan mendekatkan diri.
Passion saya adalah belajar. Maka selulus saya dari Fak.Hukum Univ.Brawijaya dan meraih gelar S1, langsung kepingin untuk melanjutkan ke jenjang S2. Tapi apa daya, waktu aku lulus keadaan ekonomi keluarga sedang parah-parahnya, sampai melamar pekerjaan aku tak bisa memilih, apa saja yang datang cepat.
Ratusan lamaran dikirim, beberapa yang dipanggil wawancara, kemudian tanpa kelanjutan. Nestle, lumayan diadakan di Kampus, jadi bisa mengirit ongkos, saking optimis dan kepinginnya diterima, pas diumumin gak keterima langsung vertigo kumat, gak bisa bangun 3 hari. Duh, Gusti.
Kesabaran diuji, daftar di PERUM PEGADAIAN jadi pegawai tidak tetap dengan penghasilan yang minim, belum berakhir penderitaan aku di pindah ke Surabaya, harus ngekos dan pulang ke Malang (ongkos lagi). Hampir mentasbihkan diri menjadi orang paling bodoh di dunia, karena beberapa teman sudah diterima di perusahaan besar, Nestle, Pertamina. Duh Gustiiii (ngeluh lagi).
Lamarrr teruuusss, tanpa hentiiiii. Sedikit demi sedikit, Allah swt membantuku menguak hikmah. Tes penerimaan pegawai Departemen Keuangan untuk regional Jawa Timur diadakan di Surabaya, yang artinya aku tidak perlu susah-susah bolak-balik Surabaya-Malang, bahkan ada teman dari Malang yang menginap di tempat Kos di Surabaya saat tes. Alhamdulillah, aku dimudahkan.
Tes demi tes berlalu, dan sampailah ke perekrutan pegawai tetap PERUM PEGADAIAN (impian semua pegawai tidak tetap dan outsourcing) dan ikutlah aku. Tes psiko lewattt, tes wawancara libaaaass, dan Alhamdulillaah aku diterima. Matur Nuwun sanget Yaa Rabb.
Tapi Allah swt nampaknya ingin menguji lagi, di saat yang hampir bersamaan, pengumuman Departemen Keuangan (yang tes-nya ampun-ampunan lamanya) sudah di depan mata. Nothing to lose, dan inilah kekuatan the power of pasrah. Pas sudah gak ada harapan, malah dikasih sama Allah swt. Aku diterima Departemen Keuangan. Alhamdulillaaaahh, tapi bingung.
Katanya kalau mundur dari PERUM PEGADAIAN itu di denda, alamak dapat uang dari mana. Tapi hati ingin ke Depkeu, merantau ke Jakarta pasti asyik. Keluarga ingin aku ambil PEGADAIAN saja, selain gaji lebih besar dan aku tidak jauh dari keluarga. Tapi hati ini berkata harus ke Depkeu, demi pengembangan diri, demi cita-cita yang tinggi (entah itu apa), pokoknya ke Jakarta. Bismillahirahmanirrahim, laduubbbb keerrr.
Di Jakarta, kangen balik ke Malang setengah mati. Gempor naik busway dari Depok (rumah Budhe) ke Depkeu, astagaaa, ternyataa Jakarta segini parahnya . Sedihhhhh, kangen keluarga, kangen pacarrr. Nelangsa. Polusi, sesak nafas, sakit gak ada yang rawat. Gaji 900rb Sembilan bulan merana-rana. Yaa Allah semoga pilihanku tidak salah.
Allah swt tidak diam ternyata, Dia mengirim sang pacar ke Jakarta karena diterima bekerja di sini. Alhamdulillah, kini karir bukan halangan bagi kami. Insyaallah sudah bisa menyumbang sedikit untuk keluarga. Walaupun halangan dan rintangan ada saja di kota besar ini, Insyaallah kuat jika bersama. Terima kasih Yaa Rabb.
Bersabar dan luruskan niat. Cuma itu saja rumusnya. Yaa Allah swt, ternyata benar Kau tidak diam, tidak tidur, tidak lengah.
Bersambung Man Jadda Wa Jada (2)
Hanya sebuah kata dalam bahasa Arab, namun maknanya bisa membuat saya kuat tidak tidur sampai jam 4 pagi hanya untuk menyelesaikan Statement of Motivation dan begitu dasyat membuat tubuh saya yang pemalas ini bangun untuk sholat malam dan puasa Senin- Kamis.
“Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil” . “Siapa yang bersabar akan beruntung”. Seperti ditunjukkan begitu saja oleh Allah swt, tanpa diminta. Sejak saat itu, saya tahu Allah swt tidak membawa saya sampai sejauh ini untuk meninggalkan saya. Pasti ada maksud, pasti ada hikmah, dan saya berhasil meyakinkan diri saya bahwa Allah swt itu ada untuk semua hambaNya yang mau berusaha dan mendekatkan diri.
Passion saya adalah belajar. Maka selulus saya dari Fak.Hukum Univ.Brawijaya dan meraih gelar S1, langsung kepingin untuk melanjutkan ke jenjang S2. Tapi apa daya, waktu aku lulus keadaan ekonomi keluarga sedang parah-parahnya, sampai melamar pekerjaan aku tak bisa memilih, apa saja yang datang cepat.
Ratusan lamaran dikirim, beberapa yang dipanggil wawancara, kemudian tanpa kelanjutan. Nestle, lumayan diadakan di Kampus, jadi bisa mengirit ongkos, saking optimis dan kepinginnya diterima, pas diumumin gak keterima langsung vertigo kumat, gak bisa bangun 3 hari. Duh, Gusti.
Kesabaran diuji, daftar di PERUM PEGADAIAN jadi pegawai tidak tetap dengan penghasilan yang minim, belum berakhir penderitaan aku di pindah ke Surabaya, harus ngekos dan pulang ke Malang (ongkos lagi). Hampir mentasbihkan diri menjadi orang paling bodoh di dunia, karena beberapa teman sudah diterima di perusahaan besar, Nestle, Pertamina. Duh Gustiiii (ngeluh lagi).
Lamarrr teruuusss, tanpa hentiiiii. Sedikit demi sedikit, Allah swt membantuku menguak hikmah. Tes penerimaan pegawai Departemen Keuangan untuk regional Jawa Timur diadakan di Surabaya, yang artinya aku tidak perlu susah-susah bolak-balik Surabaya-Malang, bahkan ada teman dari Malang yang menginap di tempat Kos di Surabaya saat tes. Alhamdulillah, aku dimudahkan.
Tes demi tes berlalu, dan sampailah ke perekrutan pegawai tetap PERUM PEGADAIAN (impian semua pegawai tidak tetap dan outsourcing) dan ikutlah aku. Tes psiko lewattt, tes wawancara libaaaass, dan Alhamdulillaah aku diterima. Matur Nuwun sanget Yaa Rabb.
Tapi Allah swt nampaknya ingin menguji lagi, di saat yang hampir bersamaan, pengumuman Departemen Keuangan (yang tes-nya ampun-ampunan lamanya) sudah di depan mata. Nothing to lose, dan inilah kekuatan the power of pasrah. Pas sudah gak ada harapan, malah dikasih sama Allah swt. Aku diterima Departemen Keuangan. Alhamdulillaaaahh, tapi bingung.
Katanya kalau mundur dari PERUM PEGADAIAN itu di denda, alamak dapat uang dari mana. Tapi hati ingin ke Depkeu, merantau ke Jakarta pasti asyik. Keluarga ingin aku ambil PEGADAIAN saja, selain gaji lebih besar dan aku tidak jauh dari keluarga. Tapi hati ini berkata harus ke Depkeu, demi pengembangan diri, demi cita-cita yang tinggi (entah itu apa), pokoknya ke Jakarta. Bismillahirahmanirrahim, laduubbbb keerrr.
Di Jakarta, kangen balik ke Malang setengah mati. Gempor naik busway dari Depok (rumah Budhe) ke Depkeu, astagaaa, ternyataa Jakarta segini parahnya . Sedihhhhh, kangen keluarga, kangen pacarrr. Nelangsa. Polusi, sesak nafas, sakit gak ada yang rawat. Gaji 900rb Sembilan bulan merana-rana. Yaa Allah semoga pilihanku tidak salah.
Allah swt tidak diam ternyata, Dia mengirim sang pacar ke Jakarta karena diterima bekerja di sini. Alhamdulillah, kini karir bukan halangan bagi kami. Insyaallah sudah bisa menyumbang sedikit untuk keluarga. Walaupun halangan dan rintangan ada saja di kota besar ini, Insyaallah kuat jika bersama. Terima kasih Yaa Rabb.
Bersabar dan luruskan niat. Cuma itu saja rumusnya. Yaa Allah swt, ternyata benar Kau tidak diam, tidak tidur, tidak lengah.
Bersambung Man Jadda Wa Jada (2)
Thursday, 26 May 2011
for a fantasy, this is waaaayyyy too tragic
I am a tweeting woman. Even though my traffic decreased lately, but I am actively monitor my timeline in every hour every day. Just log in, check something important and then log out. 4-5 minute enough. That’s when I am busy, if not I would spent hours in a day just to re-tweeting, replying, quoting, or just tweet some ‘interesting’ topics that ‘in purpose’ to attract people to comment on those.
I do realize that I am a creative person, I am totally loves to write and raise an issue to talk to, OR sometimes I wrote something relates to what happen in a day. But I thought that my idea is running out, this is all because my brain is shrinking.
It just me or world begin to walks faster than 4 or 5 years ago. I am tired catching the deadline, tired of running the gear, tired of hoping something empty, tired of being alone struggling. I am tired of being me nowadays. I wanna quit. I wanna reach the door with the ‘STOP’ or ‘REST’ sign in it. I wanna PAUSE. Click one button that makes this world stop moving around. Just give me sometimes to breath and think with my weary heart and soul.
I wanna cry, but my eyes were not a sufficient tears-can, it can’t just pours the water out, I need something much more mellow-dramatic scene. I wanna quit but I am not typically a quitter. THESE MAKE ME CONFUSE, about who am I and what am I gonna doing with this unstable feeling.
I am holding a chance of maximum lots of £ and possibility of going to watch Manchester, Liverpool and a like, LIVEEEEEEEEEEE. I AM PREPARING MYSELF TO ENGLAND THIS YEAR, and damn this feeling is too much like a dream rather than reality. I tell you why?
1.I have no admissions letter from University in the UK. And this is tragic »ω« (I feel like moron this way)
2.If I am not gonna get that admission letters or if there are no UK institutions wanna give me a ‘seat’ in their beloved University >>> the Lovely British Council will just kick my a** out of the box. (this is waaaayyyy too tragic)
3.Now, I can’t sleep tight. Headache in the morning, pale face in the noon, stomachache in the night. ::: I spend almost the day preparing documents and do massive university hunting.
4.I CAN’T DO ANOTHER IELTS TEST. Why? THERE IS NO SQUIRRELS IN MY WALLET. Are we clear on this one?
5.Next month is my Wedding. And I need my brain to helps me concentrate, moreover in the wedding night, some bed-stuff, about making my husband happy. I need my energy, I need my brain back in place. I can’t go home with this mess, I just can’t.
6.June is near to its end, July would come, and I am not even ready for “HOLDING THIS IMAGINARY £”. It seems like I just drown on fake euphoria.
7.Some administrations problem in my office punch my face “literally” bringing some hot issue about “my impossibility of going to England”. That’s very destructive motivation from my office, thanks a lot.
Now, you know I call this chance a dream than a reality, because it is close to fantasy than a fact. Now, you know I am not around much lately. It is because I am busy making myself sure that this is not a dream and I need to move on and sadly to say, this is waaaaaaaaaaaaayyy too difficult.
I do realize that I am a creative person, I am totally loves to write and raise an issue to talk to, OR sometimes I wrote something relates to what happen in a day. But I thought that my idea is running out, this is all because my brain is shrinking.
It just me or world begin to walks faster than 4 or 5 years ago. I am tired catching the deadline, tired of running the gear, tired of hoping something empty, tired of being alone struggling. I am tired of being me nowadays. I wanna quit. I wanna reach the door with the ‘STOP’ or ‘REST’ sign in it. I wanna PAUSE. Click one button that makes this world stop moving around. Just give me sometimes to breath and think with my weary heart and soul.
I wanna cry, but my eyes were not a sufficient tears-can, it can’t just pours the water out, I need something much more mellow-dramatic scene. I wanna quit but I am not typically a quitter. THESE MAKE ME CONFUSE, about who am I and what am I gonna doing with this unstable feeling.
I am holding a chance of maximum lots of £ and possibility of going to watch Manchester, Liverpool and a like, LIVEEEEEEEEEEE. I AM PREPARING MYSELF TO ENGLAND THIS YEAR, and damn this feeling is too much like a dream rather than reality. I tell you why?
1.I have no admissions letter from University in the UK. And this is tragic »ω« (I feel like moron this way)
2.If I am not gonna get that admission letters or if there are no UK institutions wanna give me a ‘seat’ in their beloved University >>> the Lovely British Council will just kick my a** out of the box. (this is waaaayyyy too tragic)
3.Now, I can’t sleep tight. Headache in the morning, pale face in the noon, stomachache in the night. ::: I spend almost the day preparing documents and do massive university hunting.
4.I CAN’T DO ANOTHER IELTS TEST. Why? THERE IS NO SQUIRRELS IN MY WALLET. Are we clear on this one?
5.Next month is my Wedding. And I need my brain to helps me concentrate, moreover in the wedding night, some bed-stuff, about making my husband happy. I need my energy, I need my brain back in place. I can’t go home with this mess, I just can’t.
6.June is near to its end, July would come, and I am not even ready for “HOLDING THIS IMAGINARY £”. It seems like I just drown on fake euphoria.
7.Some administrations problem in my office punch my face “literally” bringing some hot issue about “my impossibility of going to England”. That’s very destructive motivation from my office, thanks a lot.
Now, you know I call this chance a dream than a reality, because it is close to fantasy than a fact. Now, you know I am not around much lately. It is because I am busy making myself sure that this is not a dream and I need to move on and sadly to say, this is waaaaaaaaaaaaayyy too difficult.
Tuesday, 10 May 2011
I was born at 8 May not 8 June
anda boleh cek Akte kelahiran, KTP, Ijazah, Paspor dan semua dokumen yang tertera tanggal lahir saya, maka anda akan mendapatkan tanggal 8 Juni 1986 di sana. Anda kira itu benar? wah berarti anda harus bertanya dulu kepada saya sebelum mengucapkan selamat ulang tahun pada tanggal 8 Juni, karena saya sebenarnya dilahirkan tepat 1 bulan sebelumnya, alias tanggal 8 Mei. Jadi yang mau ngasih kado, atau nyiapin kembang api kaya' Ajay dan Noel, lebih baik tanggal 8 Mei ato sekitaran tanggal itu, heiheiehiehiehieh ^^
thankyouuu Pipiiii :: I love you.
thankyouuu Pipiiii :: I love you.
Thursday, 5 May 2011
Mou you've paid to be smarter than me
After for so long time, I've been thinking about this one. Why when Ozil came up, everything just go in light. Real Madrid sometimes give him no chance to play his all effort and style. Thanks God that I've found this article written by Leander Schaerlaeckens from ESPN.com. He can be reached at leander.espn@gmail.com. Well, for some reason he knows what I want to know.
here we are.
Ozil is Real's best weapon against Barca
It all makes sense now.
Getting rid of Rafael van der Vaart, who went on to blossom for Tottenham Hotspur; benching Kaka, the second-most expensive player of all time; and making Cristiano Ronaldo, the most expensive player of all time, stick to the right wing or play up top instead of allowing him to drift into the middle.
And the reason is Mesut Ozil, Real Madrid's pesky German playmaker.
We've known he was good for some time now, since his days with Werder Bremen, since his World Cup this summer with Germany, and for all of this season too.
But just how influential the 22-year-old Ozil really is has revealed itself over these first two games of the four-part fight to the death between Real Madrid and Barcelona. They've contested a league game and the Copa del Rey final and next will duke it out over the next two weeks to determine who will go to the Champions League final.
In the Copa final on Wednesday, he was the best man on the field in the first half. He was, as always, creative, persistent and dynamic. But he was also, for lack of a more evocative explanation, Real's X-factor -- the way he has been in both games with Barca. In the first game on Saturday, Real looked devoid of ideas and hapless going forward until Ozil came on in the 57th minute after Barca had gone ahead. Ozil provided a desperately needed spark and helped the Merengues win an equalizer and a tie. On Wednesday, he was on for 70 minutes, during which Real was largely the better side, and certainly had the best chances. In the span, every decent chance Real got was of Ozil's making. His brilliant cross saw Pepe head it off the post, and several great balls through to Ronaldo, playing up top to stay out of Ozil's way, were for naught as the Portuguese star couldn't convert.
Once Ozil came off, Barca became the better team again, the way it always seems to when the German leaves the fray. Suddenly, the spark was gone. Real was no longer a threat and dumped back into its own half, defending and hoping for the best. While Madrid was able to scrape out a win on a marvelous header by the otherwise wasteful Ronaldo in the 103rd minute, it was Barca that had dominated that spell of the game.
And that's what doesn't make sense.
Real coach Jose Mourinho has been taking Ozil off prematurely all year. At first because of fitness reasons, but later as a tactical choice. Real is much the better side with Ozil on the field. Whenever he played, Real could compete with Barca, challenge for the ball, hold onto it, make strides in possession and create chances. But when it comes down to it, Mourinho, who bought Ozil from Werder, doesn't seem to trust him when his side is playing for all the marbles.
Mourinho seems to have discovered a method for combating Barca's dominance over these past two games, by playing three holding midfielders and letting Ozil wreak havoc up front by feeding Ronaldo and Angel Di Maria. But if he continues to insist on letting Ozil play only a part of those games, he might torpedo his own method. And he might come unstuck in his grand plan for dethroning Barca in Europe.
If Real is to make it to the Champions League final, it will have to let Ozil orchestrate its understaffed offense all of the time. And not a second less.
Yes, I know since for the first, let this Ozil-boy play, and let him bring Los Blancos win the title, Mou.
here we are.
Ozil is Real's best weapon against Barca
It all makes sense now.
Getting rid of Rafael van der Vaart, who went on to blossom for Tottenham Hotspur; benching Kaka, the second-most expensive player of all time; and making Cristiano Ronaldo, the most expensive player of all time, stick to the right wing or play up top instead of allowing him to drift into the middle.
And the reason is Mesut Ozil, Real Madrid's pesky German playmaker.
We've known he was good for some time now, since his days with Werder Bremen, since his World Cup this summer with Germany, and for all of this season too.
But just how influential the 22-year-old Ozil really is has revealed itself over these first two games of the four-part fight to the death between Real Madrid and Barcelona. They've contested a league game and the Copa del Rey final and next will duke it out over the next two weeks to determine who will go to the Champions League final.
In the Copa final on Wednesday, he was the best man on the field in the first half. He was, as always, creative, persistent and dynamic. But he was also, for lack of a more evocative explanation, Real's X-factor -- the way he has been in both games with Barca. In the first game on Saturday, Real looked devoid of ideas and hapless going forward until Ozil came on in the 57th minute after Barca had gone ahead. Ozil provided a desperately needed spark and helped the Merengues win an equalizer and a tie. On Wednesday, he was on for 70 minutes, during which Real was largely the better side, and certainly had the best chances. In the span, every decent chance Real got was of Ozil's making. His brilliant cross saw Pepe head it off the post, and several great balls through to Ronaldo, playing up top to stay out of Ozil's way, were for naught as the Portuguese star couldn't convert.
Once Ozil came off, Barca became the better team again, the way it always seems to when the German leaves the fray. Suddenly, the spark was gone. Real was no longer a threat and dumped back into its own half, defending and hoping for the best. While Madrid was able to scrape out a win on a marvelous header by the otherwise wasteful Ronaldo in the 103rd minute, it was Barca that had dominated that spell of the game.
And that's what doesn't make sense.
Real coach Jose Mourinho has been taking Ozil off prematurely all year. At first because of fitness reasons, but later as a tactical choice. Real is much the better side with Ozil on the field. Whenever he played, Real could compete with Barca, challenge for the ball, hold onto it, make strides in possession and create chances. But when it comes down to it, Mourinho, who bought Ozil from Werder, doesn't seem to trust him when his side is playing for all the marbles.
Mourinho seems to have discovered a method for combating Barca's dominance over these past two games, by playing three holding midfielders and letting Ozil wreak havoc up front by feeding Ronaldo and Angel Di Maria. But if he continues to insist on letting Ozil play only a part of those games, he might torpedo his own method. And he might come unstuck in his grand plan for dethroning Barca in Europe.
If Real is to make it to the Champions League final, it will have to let Ozil orchestrate its understaffed offense all of the time. And not a second less.
Yes, I know since for the first, let this Ozil-boy play, and let him bring Los Blancos win the title, Mou.
Subscribe to:
Posts (Atom)

















