Saturday, 8 October 2011

EUROPE EUROPE EUROPE EUROPE ::::

Yihaaaaa saya di Eropa, sujud syukur, alhamdulillah Yaa Rabb. Siapa yang nyangka saya yang hanya anak dari keluarga seadanya ini bisa meneruskan sekolah di luar negeri. sujud syukur lagi. kalau perlu sampai mati tetep sujud.

Master :
Saya masih suka malu kalau mendengar kata-kata ini. Master. Bahkan ilmu yang saya dapatkan waktu sarjana saja beranjak hilang karena jarang dipakai, beberapa istilah saya lupa. Master. saya kira saya tak ubahnya seperti anak SMA yang baru saja masuk kuliah. masih dungu. tidak mengerti apa-apa. masih harus terus berusaha keras mengingat. masih tenggelam di tengah-tengah teman-teman sekelas yang pintarnya bikin saya frustasi. tapi tak apa, semua angka dimulai dari nol. dulu saya juga bukan apa-apa, tapi kemudian bisa karena belajar. proses itu yang sedang saya jalani. saya ke Belanda ini dengan niat tulus untuk belajar. saya kesini untuk menjadi pintar bukan karena saya sudah pintar. kalau saya sudah pintar, ngapain saya kesini (ini kalimat ekstrimnya).

International Economic and Business Law :
Kaget lagi. jangankan anda, saya saja yang menjalani sampai sekarang masih tidak mampu menerima kenyataan bahwa saya sedang kuliah hukum ekonomi bisnis. dulu waktu masih sarjana sepertinya saya begitu antusias "untuk menghindari' mata kuliah yang ada hubungannya dengan ekonomi dan bisnis, misalnya hukum ekonomi, hukum dagang, hukum pajak dll. lha kok malah sekarang belajar ini di tingkatan yang jauh leb ih sulit dicerna nalar. alasannya karena kantor tidak akan mengijinkan saya sekolah kalau saya bilang bahwa saya akan belajar hukum humaniter (cabang ilmu hukum favorit saya sepanjang masa). nanti mungkin kalau Badan Kebijakan Fiskal sudah berubah menjadi ICRC.

Kecil bukan berarti tidak bisa keduanya :
Tubuh saya memang kecil tapi saya sudah tua lho. tambahan lagi saya sudah menikah. bule selalu tidak percaya kalau saya sudah "TUA", sedang menempuh "MASTER", dan major yang saya ambil adalah "HUKUM". jadi pada intinya mereka tidak percaya bahwa saya 'dengan tubuh kecil ini' mampu melewati semua kriteria untuk menjadi 'mahasiswa master hukum'. mungkin menurut mereka saya lebih cocok jadi bachelor student di tahun pertama untung tidak ada yang mengira saya SMA.


Sepak Bola :
Yakk, sudah saya rencanakan kalau saya sudah di Eropa berarti saya harus ke markas club-club sepakbola besar. langkah pertama saya adalah club lokal di tempat saya Groningen, FC Groningen, alhamdulillah cukup dekat dengan tempat tinggal jadi masih sempat mengambil foto. saya sebenarnya tertarik beli pernak-perniknya, tapi nantilah kalau sudah deket-deket balik ke kampung.



Insyaallah mumpung di sini semoga Allah swt mengijinkan saya pergi ke Bernabeu atau ke Camp Nou.
Saya sudah kangen menginjakkan kaki di stadion, lebih kangen lagi dengan yang biasa saya mengajak saya ke stadion.



Keluarga baru :
Nah dari sekian banyak diatas, keluarga baru inilah yang membuat saya bertahan. saya bersyukur bahwa kiranya Allah swt tidak membiarkan saya berjuang sendiri. Dia mengirimkan keluarga baru yang Insyaallah mau berbagi dan saling menolong. Alhamdulillah Yaa Rabb. sujud lagi.



Belajar Gowes :
Nahhhh, ini dia yang sukses membuat saya encok dan pegel linu. meskipun tidak ada kewajiban dalam hal gowes menggowes tapi kiranya saya jadi kehilangan pengalaman berharga bersepeda menembus hawa dingin dan hujan yang rintiknya horisontal bukan vertikal.


Kangen :
Mengatur hati agar mengolah rasa kangen jadi semangat ternyata tak semudah bikin ubi goreng. saya sudah berkali mengingatkan tujuan saya ke sini agar semangat terus membara di dada. agar semangat ini berperan mereduksi rasa kangen yang kalau sudah datang mata saya tidak akan berhenti terbanjiri air mata. gundah, galau, yah namanya juga pisah sama suami. yang tidak kangen pasti abnormal. dari setiap hari ketemu ke fase di mana semuanya harus dilakukan sendiri. ini lebih berat dari tugas membaca yang membuat kepala saya berdenyut murka. ini lebih sulit dari mengalahkan rasa takut ketabrak bus saat pertama kali gowes. ini lebih berat dari melangkahkan kaki walau sebenarnya saya bisa saja membatalkan diri untuk berangkat. andai yang di Jakarta tahu kalau saya kangen setengah mati.


Keluarga di Malang apalagi, tambah galau kalau inget suasana di sana. aduhh, jadi ga sabar untuk segera pulang. semoga semuanya dilimpahi kesehatan. jadi inget kata nenek "kesana itu sulit, berpantang pulang sebelum selesai".


alhamdulillah saya dilahirkan dari rahim wanita hebat dan dibesarkan di keluarga pantang menyerah yang hebat pula. menikahi pria hebat. dikaruniai teman-teman hebat dan perjalanan hidup yang meskipun sulit tapi menurut saya hebat.

Alhamdulillah Yaa Rabb. terimalah sujud syukurku. sampai ajal menjemputku nanti.

Van Ketwich Verschuurlaan 82 room A115.

Wednesday, 10 August 2011

Saya Menikah part II

Alhamdulillah,segala puji tumpah ruah kepada sang Maha segalanya, ALLAH SWT.

Allah swt akhirnya mengizinkan saya untuk menikah dan mengemban tugas mulia sebagai istri, walaupun pada prateknya saya kebanyakan gagal dalam melaksanakannya. Saya akhirnya diperbolehkan menikah dengan pria yang saya pilih sejak kurang lebih 7 tahun yang lalu. Pria yang tidak sempurna namun mampu memberikan semua yang saya inginkan dari pria, dialah yang saya butuhkan, dan dia juga yang ternyata diberikan oleh Allah swt kepada saya atas keteguhan hati saya mencintainya.

Belum genap 2 bulan sejak kami menikah tanggal 25 Juni 2011 yang lalu, cobaan datang kepada biduk kecil rumah tangga saya. Saya harus pergi ke Belanda meneruskan kuliah tanggal 29 Agustus 2011 ini, dan baru bisa bertemu kembali dengannya genap setahun lagi.

Mixed Feeling. Perasaan saya campur aduk tak tergambarkan, setiap kali saya melihat suami saya sedang tertidur pulas, kadang saya berpikir apa iya pergi ke Belanda ini adalah apa yang saya impikan sebagai seorang manusia, apa saya tidak salah dan tidak berpotensi menyesalinya di kemudian hari. Saya pun menjadi sering bimbang bulan ini.

Kami akan berpisah tepat di malam Ied Fitri, saat seluruh keluarga mengumandangkan takbir dan tahmid bersahut-sahutan dengan hati yang hangat penuh cinta bersama orang yang mereka kasihi, saya duduk dalam sebuah penerbangan yang akan membawa saya dan teman-teman lain menuntut ilmu di negeri nan jauh.

Saya ingin sekali melupakan semua ini, namun begitu saya tersadar, saya sudah bergitu dekat dengan tanggal 29. Saya takut kehilangan, saya takut berpisah. Apa iya saya bisa mengatasi semua masalah saya tanpa dia. Apa iya ini bukan keputusan yang salah. Saya masygul lagi, untuk kesekian kali.

Oh, betapa berat menjalani saat-saat perpisahan seperti ini. huhuhuhuhuhuhu gak tahannnn, mengapa perasaan diciptakan begitu rumit, sampai otak pun tak sanggup mengurai logikanya.

I love you Pi, mencintaimu, kebaikanmu, dan kesabaranmu ^^b.


aku bersyukur menikah denganmu.

Friday, 15 July 2011

Kasak-kusuk Kasus Kontrak Riedl Di Mata Saya

Jelas kisruh ini mengganggu demam Harry Potter saya. Riedl memiliki ejaan sama dengan bahasa inggris dari kata teka-teki atau riddle. Teka-teki? Saya rasa bukan. Suporter kisruh, absurd sekali menurut saya. Dua kubu, jika berani, tunjukkan saja kontraknya ke muka umum, biar saya dan anda yang setiap hari mencaci dan memaki dapat berargumen dengan sehat dan berdasar.

Kontrak kerja, sama dengan kontrak-kontrak lainnya merupakan dokumen penting. Sama pentingnya dengan akta jual beli, SHM bangunan, akta kelahiran, surat nikah, dan mungkin kartu keluarga. Intinya dokumen itu penting dan tidak boleh hilang.

Kontrak memang tidak dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti KTP atau SIM, tetapi kontrak itu memuat hak dan kewajiban antar pihak yang mana isi, pemenuhan kewajiban dan masa berlakunya sangatlah penting untuk diingat. Kebiasaan dan keharusan bahwa kontrak disalin dan ditandatangani (bahkan di bawa ke notaris untuk di sah kan), yang mana salinannya itu di simpan masing-masing pihak.

Dalam kasus Riedl, bagi saya ada 6 kemungkinan paling kasat mata :
1. Kontrak asli (yang seharusnya ada di PSSI) hilang, bisa karena tidak tertib administrasi (tapi bodoh menurut saya, karena terhitung itu kontrak penting).
2. Kontrak asli sengaja dihilangkan oleh pengurus PSSI lama, karena yang baru belum hitungan minggu berkantor (ini bisa saja terjadi melihat track record PSSI lama yang begitu ‘bersih”.
3. Riedl dan agen-nya atau siapapun yang mewakili keberadaannya di Indonesia sangat ceroboh dengan tidak menyimpan kontrak dengan baik dan benar.
4. PSSI baru tidak mencari dengan sungguh-sungguh dan memecat tanpa dasar (karena kontrak yang dijadikan dasar pemecatan itu ‘saat ini’ tidak diketahui keberadaannya dan tidak pernah di share ke publik.
5. Riedl melakukan kontrak dengan pihak yang tidak seharusnya mengkontrak dia, atau dalam hal ini dia tidak dikontrak oleh institusi tapi perorangan (kalau ini benar, maka kontrak seharusnya sudah cacat hukum sejak awal dan tidak dapat dilaksanakan).
6. PSSI baru dan pihak Riedl ataupun bahkan PSSI lama memiliki kontrak tersebut dan sama-sama tidak ingin publik mengetahuinya.

Kontrak sepenting itu hilang dan tidak ditemukan salinannya sama sekali, itu sungguh peristiwa yang menggelikan menurut saya. PSSI baru tidaklah sepenuhnya salah, walaupun mereka memutuskan kontrak dengan sepihak (asas itikad baik sudah dilupakan rupanya), namun jika kontrak itu dari awalnya sudah cacat maka sebenarnya asas itikad baik tidak pernah aktif di dalam sebuah kontrak tersebut sehingga kontrak kapanpun dapat diputuskan oleh pihak yang merasa di rugikan.

PSSI baru seharusnya berani mengungkap ke publik isi kontrak (kalau saya tidak salah, mereka berargumen bahwa Riedl hanya dikontrak oleh Nirwan Bakrie bukan atas nama PSSI) berarti dengan fakta ini seharusnya kontrak itu ada dong, lawong mereka bisa tahu Riedl hanya di kontrak Nirwan Bakrie. Jika kontrak itu cacat hukum atau jika pun kontrak itu ternyata sah, selayaknya kita perlu menjajaki dua kemungkinan, kedua pihak ingin memperpanjang / memperbaharui kontrak atau kedua pihak tidak lagi bersedia terikat secara hukum dalam tinta di atas kertas putih bernama kontrak.

Harus dimengerti oleh semua pihak, bahwa jika kedua belah pihak tidak bersedia lagi terikat, maka putuslah hak dan kewajiban antar keduanya. Tapi hendaklah semuanya di lakukan dalam kondisi mufakat atau kesepakatan, jika tidak dalam kontrak resmi (untuk sekelas pelatih Timnas saya rasa pasti ada klausul Penyelesaian Sengketa) mengapa tidak dimanfaatkan jika merasa dirugikan. Pertanyaannya, apakah Riedl dirugikan dengan diberhentikannya dia dari posisi pelatih Timnas? Yang rugi mungkin para pemain Timnas, namun sayangnya pemain Timnas bukan para pihak dalam kontrak tersebut.

Yang paling membuat saya heran adalah, mengapa Riedl tidak memberikan salinan kontrak yang dia simpan (atau dari sini mungkinkah kita asumsikan kontrak itu hilang, nah kalau sudah begini faktor kesalahan bisa terbagi antar dua pihak). Dalam kondisi ini berpikir logis sangat dibutuhkan, emosional karena takut akan kekalahan di laga pra – kualifikasi tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kontrak kerja. Ketakutan akan tidak kompaknya Timnas dengan pelatih baru hanya ada di benak kita, sesuatu yang sifatnya emosional tidak tercakup dan tidak mampu dicakup di dalam deret-deret tulisan di dalam kontrak kerja. Jikapun Riedl ternyata masih memiliki kontrak tersebut maka sebenarnya masalah akan bisa dijelaskan dengan gamblang, dan sebenarnya akan lebih mudah untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah? . Riedl pernah mengatakan bahwa kontraknya sah (http://bola.kompas.com/read/2011/07/15/12424288/Riedl.Ancam.Adukan.PSSI.ke.FIFA) ya kalau begitu tunjukkan ke publik, biar masyarakat memiliki dasar kuat untuk menilai bukan atas dasar ‘kata media’ yang semakin suka mengadu domba dan tidak netral.

Logisnya, jika saya ingin melakukan bisnis jual-beli rambutan, maka saya sebagai pembeli akan mencari seorang petani rambutan yang memiliki hasil produksi yang saya rasa bagus dan akan menguntungkan saya. Namun, setelah saya mendapatkan pembeli tersebut, dia ternyata ogah-ogahan bekerja sama dengan saya atau mungkin dia tidak suka dengan Ibu saya misalnya, atau dia memusuhi adik saya. Dia ternyata tahu bahwa saya bukanlah rekan bisnis yang dia inginkan, nahhhh kalau sudah begini saya rasa, saya akan mencari petani rambutan lain, yang meskipun rambutan produknya tidak seberapa manis namun dia baik dan bisa diajak bekerja sama menyatukan tujuan bisnis rambutan saya. Loginya adalah, untuk apa saya pertahankan seorang petani rambutan yang berpotensi tidak sanggup bekerja secara tim dengan saya dan menghancurkan bisnis saya. Bagaimana menurut anda?

Menurut saya, menunggu dan mengamati adalah langkah yang paling benar. Jangan keputusan ini dikritik, keputusan itu dikritik, semua yang jadi pimpinan juga akan gagap bertindak dan gagu berbicara. Apalagi kalau yang tukang protes bisanya cuma protes saja, malah tambah runyam. Kalau setiap pimpinan baru bertindak sudah di caci maki (sebagian karena emosional saja dan bukan karena dasar pemikiran yang dalam) selamanya kita tidak akan memiliki pemimpin. Atau ini semua karena kita tidak capable untuk di pimpin. Saya agak kurang setuju bahwa pimpinan baru ini kurang lebih hanya berbeda wajah dan tubuh saja tapi watak dan tujuan sih masih sama dengan Nurdin. Ehm, Nurdin saya anggap pantas turusn karena 'selama bertahun-tahun' menjabat ketua PSSI dia tidak memberikan apa-apa kepada publik. Kalaupun di AFF kita gemilang, banyak faktor saya kira yang mendasari bisa karena pelatih, bisa karena pemain, bisa karena suporter yang mana tidak ada faktor yang dominan di antaranya, semuanya saling terkait. Jadi jika Riedl keluar lalu kita kalah? sebenarnya bukan sebuah sikap yang baik, pesimis dan pemikiran negatif itu tidaklah sehat. Tapi apa iya juga kalau Riedl masih melatih kita akan menang?. well, ada yang mengatakan Riedl you are the best, the best diantara siapa, kalau dibandingkan dengan pelatih Timnas jaman keemasan Indonesia tahun 1980? apa iyah masih the best. Ayolah, mencoba berpikir kedepan bukan lagi sentimental dengan kenangan.

Wait and see, bahkan bom waktu pun memiliki kendali. Protes lah dengan benar, fakta itu langkah deduksi sejati untuk menemukan penjahat yang kita cari. Dari sini anda mengerti ?. Stop mencaci dan memaki, anda tahu bahwa jika andapun jadi pemimpin, apa iyah anda bisa de-idealis dan se-naif ini?

Tuesday, 14 June 2011

MY (accidentally) PRE-WEDDING PHOTOS

saya tidak bisa berhenti memandang-mandangi foto saya dengan calon suami saya ketika teman saya Agung dan Indra (keduanya berperan sebagai fotografer pre-wed dadakan saya) mengirimkan hasil jepretan mereka yang menurut saya W.O.W. Tidak terbayangkan. Hasilnya sungguh diluar dugaan, dengan skill, kamera bagus dan editan ciamik, model kelas kambing seperti saya dan calon suami pun jadi indah.

Lokasi ini saya yang menentukan (alias saya tidak punya perbendaharaan yang cukup bagus mengenai tempat-tempat indah di Jakarta yang biasanya dijadikan lokasi, akhirnya saya memilih Monas). Apaaa?? MONAS. M.O.N.A.S !!! yah anda benar, saya dan calon suami di potret di Monas, mulai pukul 09.00 - 12.00 WIB.

Sebelumnya (menurut kesepakatan) sesi foto ini adalah gladi bersih alias latihan, foto pre-wed nya sendiri di gelar dengan baju yang lebih resmi (ren-ca-na-nya), tapi tohh akhirnya tidak jadi dilaksanakan karena menurut saya gaya-gaya ini sudah tidak bisa diulang lagi.

Berangkat ke lokasi, saya sudah pesimis duluan. Saya dan calon suami bukanlah orang-orang yang fotogenic, suka di foto iya, tapi yaaaaaaaah hasilnya yahh begitu itu. Tampang pas-pas an dan postur yang tidak menunjang. Saya pesimis foto ini akan memperburuk suasana resepsi pernikahan dan membuat orang tidak selera makan.

Tapi setelah di utak-utik dengan teknik dan tiki-taka khas Barcelona FC, saya kagum dengan kemahiran duet maut sang fotografer, berikut link FB yang bersangkutan Agung Kurniawan dan Indra Budi .

Berikut adalah foto-foto yang akan menjadi kenangan seumur hidup saya, menjadi warisan berharga anak dan cucu, menjadi penghias dompet, kamar tidur, desktop background, dan pajangan meja kerja. Terima kasih kepada dua sahabat.

silahkan menikmati skill Agung dan Indra ini ^^b













begitulah, acara latihan memotret itu akan menjadi kenangan di sepanjang hidup saya. dengan kesabaran tingkat tinggi para fotografer itu, akhirnya saya dan calon suami bisa mendapatkan foto yang bagus dan sangat natural look.

That's all, salah dua dari foto ini akan dipilih untuk dipajang pada saat resepsi tanggal 25 Juni 2011 nanti. ^^b ihihhh akhirnya saya punya foto yang tidak memalukan untuk dipajang. thanks to Agung dan Indra.

Thanks to my love partner @mrnugrah .

Monday, 13 June 2011

SAYA MENIKAH

saya sangat senang menyadari bahwa pernikahan saya tinggal menghitung hari. dan begitu pula saya menginginkan mem-posting undangan pernikahan sederhana saya ini dimana-mana, agar ketika flesdis ato lappie ato kompie ato apalah tempat saya menyimpang soft-file undangan pernikahan saya ini rusak dan file itu tiba-tiba hilang, saya masih punya jutaan copy di dunia maya.

ini adalah cover depannya

ini bagian akad nikahnya

ini bagian pentingnya, jadwal resepsi dan siapa yang nikah ^^b

ini peta, biar tamu ga nyasar ^^b

well, setelah 7 tahun menunggu rejeki terkumpul akhirnya kesampaian juga menikah, dengan orang yang sama, dengan cita-cita bersama yang juga masih sama. nampaknya Allah swt mentakdirkan saya berjodoh dengannya. ^^b

Happy June, happy my Wedding Month.

Monday, 6 June 2011

Man Jadda Wa Jada (2)

Bukaaann orangg Malang kalau menyerah di tengah jalan, bukaaaaan anak Bapak Ibuku kalo aku sampai putus asa.
Ceritanya Badan Kebijakan Fiskal, tempatku bekerja di Depkeu (sekarang Kemenkeu) adalah tempatnya orang-orang rajin sekolah, alias di sini ini orang kalau mau maju harus sekolah. Beasiswa rebutan kayak makanan kelas dewa. Yaa Rabb, kalau ndak kuat bisa ketinggalan ini.
Beasiswa pertama adalah Dual-Degree UGM-Georgia Uni di Amerika, kami pegawai yang saat itu masih idealis-idealisnya di haruskan ikut, melewati serangkaian tes (yang bagi saya termasuk diantaranya tes mental dan kesabaran batin).
Saya sudah menekankan diri saya, tidak akan ada yang berubah dari diri saya meskipun saya berpindah habitat. Saya tetap canggih yang culas, apa adanya, ngomong yang mau saya omong, dan spade to spade, saya selalu merasa jika ada orang yang membenci atau menyukai saya biarlah mereka melihat saya apa adanya. Tapi ternyata BKF ini kebanyakan orangnya hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat. Baiklah saya sukses jadi public enemy sang Kepala Badan di tahun pertama. Sampai saat ini saya masih ingat sebutan-nya untuk saya. ANOMALI dan TIDAK PUNYA MANNER dan TIDAK BEHAVE. Well, saya sedih tapi saya bukan orang lain, saya bukan bayangan siapa-siapa, jadi saya tetap saja melaju tanpa ‘tergores’ sedikitpun, walau banjir air mata berkali-kali  sedih mengingatnya.
Saya diterima di beasiswa Dual Degree itu, namun saya menolak karena beasiswa itu untuk jurusan ekonomi dan saya tidak mau belajar apa yang tidak saya suka hanya demi “takut gak dapat beasiswa lagi” atau karena “demi memberi image anak buah patuh” atau apalah. Penolakan saya berbuntut cercaan, yahh kalau yang ini saya sudah tebak. Pil pahit, dengan beban saya harus bisa diterima beasiswa lain tahun depan (walau pada saat itu saya juga tidak yakin).
Teman-teman berangkat hampir separuhnya, mati langkah, bimbang, mungkinkah keputusan menolak itu benar. Ok, akhirnya saya bersama teman yang tersisa ikut seleksi beasiswa Australia ADS. Saya ikuti saja dengan sabar seluruh prosesnya, panjang dan melelahkan, terutama untuk saya yang duit pas-pasan, bolak-balik les IELTS Kuningan-Senen cukup menguras isi dompet (untung waktu itu ada salah seorang teman yang berbaik hati menawarkan diri membonceng saya di motor mio-nya). Setelah bulan demi bulan yang berbusa-busa itu, sampailah saya di tahap wawancara, dannnnn setelah begitu optimisnya, saya ‘keseleo’ lidah, hanya karena berusaha jujur, apa adanya, ternyata saya masih saja belum belajar banyak, bahwa orang-orang hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat. Jadii, yahhh saya harus bersabar karena saya tidak berhasil dapat ADS (walau dilalui dengan simbah air mata dan mengutuk diri sendiri berkali-kali). Sampai saat ini, jika ada yang menyebut kata ADS, saya masih suka trauma (lebaiii).
Singkat kata, saya seperti orang kesetanan, mendaftar Chevening dan Stuned, mencari Universitas, mendaftar, men-check email tiap hari, bergadang menyelesaikan letter of statement, bikin reference untuk di kirimkan ke email dosen-dosen dan bos di kantor, mengisi formulir-formulir, jungkir balik berdoa, huff. Intinya, kerja keras saya pada saat itu saya dedikasikan hanya agar saya lupa sakit hati karena ADS.
Sinyal pertama, saya di panggil wawancara Chevening (dibumbui dengan taksi pesanan yang terlambat datang, tenggorokan kering, dan aksen medhok saya yang gak bisa hilang, dan rasa kantuk karena melatih speaking sampai malam), daaaaaaaaaaan setelah menunggu lama (bulan-bulan penuh keputusasaan)saya diterima Cheveniiiiiiiiiiiiiinggg, alhamdulillaaaaaaaaaah. Tapi saya belum dapat sekolah di Inggris, ouch ternyata perjuangan saya belum berakhir.
Sinyal kedua, aplikasi StuNed saya (yang harus saya antar sendiri ke NESO, berpanas-panas karena gak punya duit naik taksi, dan manyun tingkat dewa karena perpus-nya gak ada orang dan mbak resepsionisnya dieeeem banget). Lama nunggu, akhirnya keputusan itu datang juga, saya diterimaaaaaaaaaaa. Tapi, saat itu saya sudah bilang ‘IYA’ dengan Chevening. Duhh Gustiii.
Sinyal ketiga, saya bingung ketika dua-duanya diberikan. Chevening ternyata tergolong beasiswa mandiri yang intinya belum terdaftar di administrasi kantor tapi kereeeeenn ke Inggris, Stuned administrasi beres tapiii Belanda. Bingung. Cobaan lagi.Berminggu-minggu tidak enak makan, tidak enak tidur demi diterima di universitas Inggris yang sulitnya ampun-ampunan, saya harus merelakannya karena administrasi kantor yang tidak beres. Namun, Allah swt tidak ingin saya bersedih dan jatuh dalam lembah keputusasaan lebih lama lagi. Dia memberi saya peluang untuk memilih dan belajar menjadi bijak, yaitu StuNed.
Setelah berpikir dengan tingkat intelejensia amoeba yang saya punya, akhirnya saya memilih ke Belanda dengan berbagai macam alasan prinsipil.
Tapi saya bahagia, bahwa keyakinan saya terlaksana pada akhirnya. Tidak ada yang kurang sedikitpun. Semuanya dibayar lunas oleh Allah swt, saya senang walaupun ada sedikit masalah di sana-sini. Insyaallah dengan mudah segera teratasi. Bulan ini bulan berkah, terima kasih Yaa Rabb, bulan ini aku menikah, mendapatkan pria terbaik dengan kesabarannya yang luar biasa dan keputusan terbaik dariMu.

Gagal itu selalu ada, jangan menyerah. Allah swt bukan tidak mendengar doa kita, Dia tahu yang terbaik. Percayalah.

MAN JADDA WA JADA + MAN SHABARA SAFIRA = SUKSES, Insyaallah ^^b

Man Jadda Wa Jada (1)

Baru dua bulan yang lalu saya menangis-nangis membaca novel Man Jadda wa Jada dan sekuelnya Man Shabara Safira, sekarang terbayar lunas (meminjam kata sang penulis Bang Fuadi).
Hanya sebuah kata dalam bahasa Arab, namun maknanya bisa membuat saya kuat tidak tidur sampai jam 4 pagi hanya untuk menyelesaikan Statement of Motivation dan begitu dasyat membuat tubuh saya yang pemalas ini bangun untuk sholat malam dan puasa Senin- Kamis.
“Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil” . “Siapa yang bersabar akan beruntung”. Seperti ditunjukkan begitu saja oleh Allah swt, tanpa diminta. Sejak saat itu, saya tahu Allah swt tidak membawa saya sampai sejauh ini untuk meninggalkan saya. Pasti ada maksud, pasti ada hikmah, dan saya berhasil meyakinkan diri saya bahwa Allah swt itu ada untuk semua hambaNya yang mau berusaha dan mendekatkan diri.
Passion saya adalah belajar. Maka selulus saya dari Fak.Hukum Univ.Brawijaya dan meraih gelar S1, langsung kepingin untuk melanjutkan ke jenjang S2. Tapi apa daya, waktu aku lulus keadaan ekonomi keluarga sedang parah-parahnya, sampai melamar pekerjaan aku tak bisa memilih, apa saja yang datang cepat.
Ratusan lamaran dikirim, beberapa yang dipanggil wawancara, kemudian tanpa kelanjutan. Nestle, lumayan diadakan di Kampus, jadi bisa mengirit ongkos, saking optimis dan kepinginnya diterima, pas diumumin gak keterima langsung vertigo kumat, gak bisa bangun 3 hari. Duh, Gusti.
Kesabaran diuji, daftar di PERUM PEGADAIAN jadi pegawai tidak tetap dengan penghasilan yang minim, belum berakhir penderitaan aku di pindah ke Surabaya, harus ngekos dan pulang ke Malang (ongkos lagi). Hampir mentasbihkan diri menjadi orang paling bodoh di dunia, karena beberapa teman sudah diterima di perusahaan besar, Nestle, Pertamina. Duh Gustiiii (ngeluh lagi).
Lamarrr teruuusss, tanpa hentiiiii. Sedikit demi sedikit, Allah swt membantuku menguak hikmah. Tes penerimaan pegawai Departemen Keuangan untuk regional Jawa Timur diadakan di Surabaya, yang artinya aku tidak perlu susah-susah bolak-balik Surabaya-Malang, bahkan ada teman dari Malang yang menginap di tempat Kos di Surabaya saat tes. Alhamdulillah, aku dimudahkan.
Tes demi tes berlalu, dan sampailah ke perekrutan pegawai tetap PERUM PEGADAIAN (impian semua pegawai tidak tetap dan outsourcing) dan ikutlah aku. Tes psiko lewattt, tes wawancara libaaaass, dan Alhamdulillaah aku diterima. Matur Nuwun sanget Yaa Rabb.
Tapi Allah swt nampaknya ingin menguji lagi, di saat yang hampir bersamaan, pengumuman Departemen Keuangan (yang tes-nya ampun-ampunan lamanya) sudah di depan mata. Nothing to lose, dan inilah kekuatan the power of pasrah. Pas sudah gak ada harapan, malah dikasih sama Allah swt. Aku diterima Departemen Keuangan. Alhamdulillaaaahh, tapi bingung.
Katanya kalau mundur dari PERUM PEGADAIAN itu di denda, alamak dapat uang dari mana. Tapi hati ingin ke Depkeu, merantau ke Jakarta pasti asyik. Keluarga ingin aku ambil PEGADAIAN saja, selain gaji lebih besar dan aku tidak jauh dari keluarga. Tapi hati ini berkata harus ke Depkeu, demi pengembangan diri, demi cita-cita yang tinggi (entah itu apa), pokoknya ke Jakarta. Bismillahirahmanirrahim, laduubbbb keerrr.
Di Jakarta, kangen balik ke Malang setengah mati. Gempor naik busway dari Depok (rumah Budhe) ke Depkeu, astagaaa, ternyataa Jakarta segini parahnya . Sedihhhhh, kangen keluarga, kangen pacarrr. Nelangsa. Polusi, sesak nafas, sakit gak ada yang rawat. Gaji 900rb Sembilan bulan merana-rana. Yaa Allah semoga pilihanku tidak salah.
Allah swt tidak diam ternyata, Dia mengirim sang pacar ke Jakarta karena diterima bekerja di sini. Alhamdulillah, kini karir bukan halangan bagi kami. Insyaallah sudah bisa menyumbang sedikit untuk keluarga. Walaupun halangan dan rintangan ada saja di kota besar ini, Insyaallah kuat jika bersama. Terima kasih Yaa Rabb.
Bersabar dan luruskan niat. Cuma itu saja rumusnya. Yaa Allah swt, ternyata benar Kau tidak diam, tidak tidur, tidak lengah.

Bersambung Man Jadda Wa Jada (2)