Friday, 28 January 2011

what the use of living this one and only earth


saya ambil foto ini dari sebuah halaman tentang kampanye Anti Climate Change di sebuah majalah The Economist (sebuah majalah milik para kapitalis yang membicarakan masalah kapital) . I think this world 'deserve' funnier irony.

Thursday, 27 January 2011

A Beloved Father Called Papa

there it would be something than just posting words in my blog. I have been already change so many things in it. Just to refresh, and looking for something new.

Pagi ini, seperti biasa terbangun dengan kaget (sudah setiap hari seperti ini, walaupun mempersiapkan diri untuk terbiasa, tapi sepertinya ini 'kaget' sudah merupakan bentuk 'bangun' dari 'tidur' *halah*). Ingin hati tidak segera beranjak dari kasur empuk dan selimut hangat, tapi nampaknya saya sudah terlalu banyak membuat kesalahan tahun 2011 ini (yah, memang baru berjalan 27 hari,tapi saya yakin saya sudah membuat banyak kenangan yang sama sekali tidak ingin saya kenang).

Tanggal 25 Jan 2011 adalah hari dimana nasib saya ditentukan oleh dua orang peng-interview. Saya mendaftarkan diri untuk mendapatkan Beasiswa Ke Australia sejak 6 bulan yang lalu (perjalanan yang cukup panjang untuk sampai ke tahap ini, dan belum-belum saya sudah tidak ingin mengulanginya lagi, saya lelah), pagi harinya saya sudah merasa bahwa wawancara ini tidak akan berjalan dengan baik, namun saya tetap berangkat dengan rasa takut yang entah mengapa sulit sekali saya hilangkan.

Singkatnya, wawancara saya berlangsung buruk, dan pada saat ditengah-tengah wawancara pun saya sudah tahu kalau saya akan gagal. Saya pasrah. Pada saat keluar ruangan untuk berjumpa dengan teman-teman 'senasib' di Hall, saya tiba-tiba saya teringat akan ayah saya (mulai sekarang dan selanjutnya akan ditulis dengan kata 'Papa'). Dulu, ketika untuk pertama kali saya diumumkan menjadi wakil Propinsi Jawa Timur di Ajang World School Debating Championship di Jakarta, saya sudah merasa bahwa saya akan gagal (which is, sama persis dengan wawancara Beasiswa saya), bedanya saat itu saya masih kelas 2 SMA dan sangat (sangat-sangat-sangat) berambisi.

Pertandingan tidak berjalan baik dan dua rekan saya (Ellien dan Yati = dua-duanya meneruskan sekolah S1 dan S2 di Jepang karena kepintaran di atas rata-rata air)mungkin kecewa karena saya sungguh dapat dibilang cuma 'nglawak' di sana. bahasa inggris saya hancur berkeping-keping, dan saya sama sekali tidak bisa berpikir (which is (lagi-lagi) sama dengan wawancara beasiswa ini). Lawan saya kala itu adalah para debaters dari SMA-SMA ciamik negeri ini (dalam wawancara beasiswa ini _sayangnya_ saya juga berhadapan dengan 'debaters' instead of interviewer).

Yah begitulah, mungkin saya harus banyak-banyak introspeksi diri, mungkin saya terlalu pede, mungkin saya terlalu banyak berkata 'well' dan lain-lain, dan lain-lain yang lain -halah-. Dulu saat kalah WSCD saya menelepon kerumah dan pada saat laki-laki di ujung telepon berkata "Assalamualaikum" air mata saya langsung mengalir. Saya menangis hanya karena mendengar suara Papa. Semakin tak tertahankan saat beliau langsung mengatakan "Ini Pipit ta?", sambil sesenggukan saya bilang "Waalaikumsallam, Iya Pa". Saya terdiam selama telepon berdurasi 3 menit itu selainnya hanya Papa yang berbicara panjang lebar, yang (kira-kira) seperti ini :

"Uwes talah Nduk, ga usah dipikir, kabeh wong yoh wes mesthi onok gagal e, kabeh iku onok masane. Sakjane kudu seneng, awakmu iku wes luwih beruntung dibandingno karo konco-koncomu sak Jawa Timur, sing dipilih mek telu lho, yeopo gak hebat, Papa wes seneng awakmu koyok ngene iki, masio gak menang ga dadi soal. Ojo dadi atimu. Ojo susah. Pengalaman iku yoh ancen ono sing ga enak, mosok enak terus, iso-iso menungso lali marang Gustine. Yowes nangis-nangis o sing banter, tak rungokno".

[udahlah, tidak perlu dipikirkan,semua orang pasti pernah mengalami kegagalan, semua itu ada waktunya. sebenarnya kamu harus senang, kamu sudah lebih beruntung dibandingkan dengan teman-teman sebayamu di Jawa Timur, yang dipilih cuma tiga lho, bagaimana tidak hebat. Papa sudah senang dengan dirimu yang seperti ini. Meskipun tidak menang tidak menjadi soal. jangan membuatmu sedih, jangan bersusah hati. pengalaman itu juga pasti ada yang tidak enak, masa' enak terus, bisa-bisa manusia lupa akan Tuhannya. Yasudah nangis aja yang keras, Papa dengarkan]

Efeknya, tidak membuat saya semakin kuat, malah tangis saya meledak (baik saya gunakan kata-kata ini untuk menggambarkan betapa memang mata saya seakan terlepas saking sakitnya).Papa saya terdiam di ujung sana, tidak berbicara sepatah katapun, tidak berusaha menghibur lagi, dia hanya terdiam, sedang saya terus saja menangis. Setelah tangisan saya mereda, Papa kembali bicara, "Uwes, lego durung, lek durung nangiso meneh, lek wes kesel ndang di toto awak e, wes ayo usaha meneh, lek menang yoh siap, lek kalah yoh siap, yowes, sukses yoh Nduk, Assalamualaikum". [sudah lega belum, kalau belum nangis lagi saja, kalau sudah , ayo cepat menata diri, berusaha lagi, siap untuk kemenangan, siap untuk kekalahan. Yasudah, sukses ya]

Jari tangan saya menyusur bawah mata saya yang basah, mengucap salam dan menutup telepon dengan hati yang entah mengapa begitu lega. Diluar kubik wartel berukusan kuburan itu saya sudah ditunggu oleh Almarhum Bapak Setiadi (guru bahasa inggris sekaligus pembimbing Club ECC -English Conversation Club- di SMA saya yang tidak pernah sepi gelar *I mean it*).

Saat itu pemenang dan peringkat belumlah diumumkan tapi saya sudah tahu bahwa tim saya tidak akan mendapatkan peringkat tinggi dan keluar sebagai wakil Indonesia di World School Debating Championship di Peru (kalau tidak salah saat itu). Karena proses pertandingan kami tidak berjalan baik. Kali ini wawancara saya juga tidak berjalan baik, hanya bedanya saya sama sekali pasrah terhadap keputusan Allah swt apapun itu, dan juga satu hal yang berbeda yaitu tidak ada Papa yang setia mendengarkan saya menangis dan dengan caranya yang unik menguatkan saya.

Tribute To Papa "Supariono Abdul Manan" 12 Juni 1951 - 1 April 2006.

Wednesday, 26 January 2011

mengganti nama

beberapa orang bertanya mengapa saya mengganti judul Blog saya dan terutama tentang apa yang saya telah pertimbangkan.

LA BREA TAR PITS bukan hanya judul salah satu chapter di novel yang saya tulis (jangan mencarinya di tokok buku, novel ini tidak layak publish) tentang kematian jiwa, bukan hanya raga. Kematian harga diri, kematian rasa malu, kematian rasa bertoleransi, kematian atas usaha untuk memberontak melawan yang bathil. saya tidak lebih hidup di tengah-tengah kematian yang hidup.

menurut Wikipedia :

For the tar pit in La Brea, Trinidad and Tobago, see Pitch Lake.

The La Brea Tar Pits (or Rancho La Brea Tar Pits) are a famous cluster of tar pits around which Hancock Park was formed, in the urban heart of Los Angeles. Asphalt or tar (brea in Spanish) has seeped up from the ground in this area for tens of thousands of years. The tar is often covered with water. Over many centuries, animals that came to drink the water fell in, sank in the tar, and were preserved as bones. The George C. Page Museum is dedicated to researching the tar pits and displaying specimens from the animals that died there. The La Brea Tar Pits are now a registered National Natural Landmark.

saya baru sadar bahwa betapa rasa penghargaan di negara ini sudah mati. tidak ada yang hidup di negara ini kecuali sistem yang bobrok dan hancur luar biasa. saya termasuk salah seorang jasad yang terapung terombang ambing di dalamnya. saya yakin anda juga?. Jika tidak maka, mengapa begitu banyak diantara kita yang tidak peka terhadap perubahan dan menghargai pola pikir orang lain.

saya heran, saya kesal, mengapa orang begitu tidak terbuka, mengapa begitu cepat mengkritik tanpa mengetahui esensi, begitu mudah berteriak.

saya namakan Blog ini 'la brea' sebagai tribut kekesalam saya terhadap sistem di negeri ini, sistem kacau yang terstruktur.

.adios.

DJ

Saturday, 15 January 2011

being smart

membacalah dan kau akan mengerti. bacaan membantumu membentuk imagi. imagi akan menuntunmu pada suatu keputusan. entah benar entah salah. di dunia ini tidak ada yang mutlak benar dan mutlak salah, kecuali Islam. jadi apa yang kau percayai adalah yang benar. dan selama kau berani membela apa yang benar, kau tidak perlu merasa takut untuk membuat kesalahan. karena kebebasan berpikir bermula dari kesalahan.

kita manusia kawan. kita hanya makhluk yang memiliki kedangkalan pikiran dan hati.terkadang kita menghadapi pilihan yang sulit dalam hidup. tapi dengan membaca peluang dan opini, paling tidak tidak kita mau mengetahui pemikiran orang lain. bukan hanya sekadar mencaci.

LPI dan ISL adalah pilihan liga. anda atau saya boleh memilih. boleh saling memaki. saya sudah memilih harus berada dimana, terlepas dari apapun, saya memiliki alasan. dan selama saya pikir alasan saya benar maka anda boleh bersama saya atau berseberangan. saya tidak perduli yang penting tujuan kita sama. memajukan sepak bola Indonesia dan menurunkan Nurdin berserta antek-antek busuknya.

jalan kita mungkin berbeda, saya menginginkan sepak bola yang lebih baik dengan mendukung 'breakthrough league' bernama LPI, dan mungkin anda menempuh jalan yang berbeda. tidak menjadi masalah. ini bukan saatnya suporter terpecah, kalaupun memiliki perbedaan pemikiran itu hal yang biasa bukan. ini yang membuktikan kedewasaan suporter Indonesia, tidak hanya lantang berteriak, tidak hanya kreative di lapangan, tetapi juga pintar.

dan mungkin menjadi yang terakhir itu yang sulit.

Friday, 14 January 2011

THEY WOULD ALWAYS SCORE A GOAL

Washington, DC, January 12, 2011 —The world economy is moving on from a post-crisis bounce-back phase of recovery to slower but still solid growth this year and next. Global GDP, which expanded by 3.9% in 2010, is expected to slow to 3.3% in 2011, according to the World Bank’s Global Economic Prospects 2011.
Developing country growth of 7% in 2010, and 6% in 2011 is projected, which is more than twice the rate projected for high-income countries.
Most low-income countries saw trade gains in 2010 and, overall, their GDP rose 5.3% in 2010. This was supported by a pick-up in commodity prices, and to a lesser extent in remittances and tourism. Their prospects are projected to strengthen even more, with growth of 6.5% in both 2011 and 2012, respectively.

berita di atas saya ambil dari situs resmi Bank Dunia . Saya selalu terkesan dengan angka-angka yang muncul pada sebuah artikel yang ditulis dengan analisis yang rapi dan komprehensif.

selama 2 tahun saya bekerja untuk Badan Kebijakan Fiskal, mata saya tidak pernah lepas dari hal-hal semacam ini, apalagi pekerjaan saya mengerjakan Analisis Keekonomian yang membuat saya sangat intim dengan data angka. Tidak perlu merasa aneh, sebagian besar manusia di dunia seperti itu adanya. Setiap hari tidak pernah lepas dari angka, bahkan beberapa menjadikannya sebuah pencapaian.

tidak perlu muluk dengan data-data ekonomi seperti diatas, jika anda pecandu social networking seperti saya, maka saya berani bertaruh anda akan menaruh perhatian terhadap banyaknya teman dan jumlah follower setiap harinya. Kasus lain, jika anda seorang pekerja, maka banyaknya digit di rekening tabungan anda akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan.

yang membuat kita merasa hidup adalah deretan angka, yang selalu saja berarti sesuatu. Jam, tanggal, bulan, uang, ukuran baju, dll. Saya heran mengapa kita dibebankan dengan hal itu, mengapa angka begitu berarti dalam hidup, seperti nilai inflasi, nilai kesejahteraan, nilai kepuasan, nilai kedisiplinan, mengapa anda mengukur sesuatu yang abstrak dengan angka, seakan-akan itu dapat mengukur kedalaman hati anda, atau mungkin bahkan pikiran anda.

saya seorang sarjana hukum, dan mohon maaf jika saya sedikit subyektif, tapi cabang ilmu yang menurut saya sedikit tidak perlu dipelajari adalah 'psikologi'. saya setuju dengan alasan bahwa cabang ilmu ini membantu kita untuk mengenali kepribadian seseorang, bukan menilai atau bahkan 'men-judge' sifat orang itu hanya dengan 'coretan gambarnya' atau 'nilai tes kemampuan membedakan warnya' apalagi kemudian mereka menaruh ‘kepribadian’ kita dalam angka-angka. Mana bisa seperti itu.

Manusia jadi begitu terobsesi dengan angka, data-data riil berbunyi, satu, dua, tiga, seribu, duaribu,sejuta,dua juta menjadi tolak ukur kesuksesan. Berapa jumlah pacar anda membuat anda dinilai sebagai orang yang menarik, dicintai, dan dipuja banyak orang. Tapi itukah ukuran anda, kalau iya, maka saya perlu kasian terhadap anda, karena sebagai pemuja ‘angka’ sebagai pemuja ‘jumlah’ anda sungguh menyedihkan. Bayangkan jika Tuhan memberikan anda kesempatan hidup sekali lagi, maka anda pasti akan meminta lagi.

Hati itu tidak dapat diukur, begitu pula hari. Mengapa kita saat ini begitu dikendalikan waktu. Ribuan angka-angka berkelebatan di kepala kita setiap hari hanya agar kita on-track atau on-schedule. Pathetic. Saya tidak suka angka, dan oleh karena itu saya paling tidak suka menghitung score. Tidak menjadi masalah bagi saya jika tim jagoan saya kalah, atau tidak mencetak gol. Bagi saya mereka lebih dari sekedar barisan manusia yang dinilai dari berapa banyak mereka mencetak gol, dengan hitungan 1,2,3,4 atau 5.

Arema akan selalu mencetak gol, dan selalu menang. Memang saya sedikit absurd dengan penilaian ini, namun saya yakin semua akan beranggapan sama. Tidak ada kata kalah dalam kamus Arema, mereka selalu menang, bahkan ketika tidak membawa poin pun. Karena ukuran kemenangan mereka bukan pada hitungan angka tapi pada eksistensi mereka untuk selalu ada.




KARENA MEREKA ADALAH RASA MEMILIKI, DAN TIDAK ADA ANGKA YANG TEPAT UNTUK MERUMUSKAN 'IDENTITY'.


I love this team, and always be.

Tuesday, 11 January 2011

Jangan dengarkan ...

jangan dengarkan jika ada yang berteriak memintamu untuk berhenti.
jangan sesali jika kemudian jalannya tidak semudah yang kau pikirkan.
jangan berhenti meskipun kaki dan tanganmu bersimbah kepedihan.
karena jika rasa memiliki itu menyakitimu maka tidak ada hal lain di dunia ini yang mampu lebih sakit daripada itu.
maka kuatkan hatimu, dan teruslah melangkah.
karena berhenti sama dengan mati.
hidup itu bergerak, maka janganlah hati dan pikiranmu membeku karena takut.
jangan tutup matamu, jika sinar itu terlalu terang.
jangan tutup telingamu, walau suara itu membuatmu tuli.
jangan pernah berhenti bersuara, karena kebenaran itu bukan diam.

untuk orang-orang yang berusaha demi cinta untuk keluarga, sahabat dan apa yang dia percaya. semoga anda berhasil di seberang sana.

Lions, I do understand.

Bahtera kita sedang berguncang saudara satu jiwaku.
Bepeganglah pada yang kuat.
Carilah, berlarilah, gapailah sekuat tenagamu.
Jika bukan pegangan yang sekuat baja, apa lagi yang mampu menahan beban tubuh kita dari goncangan maha dasyat ini.

Arema bukan tim kemarin sore, bukan tim bau kencur, apalagi tim kelas bawah. Arema tim besar, tim dengan jutaan suporter fanatik, Arema itu seperti rumah, seperti tempat kembali bagi sebagian kita yang pergi. Arema bukan hanya sekali ini diguncang masalah. Keuangan yang carut marut dibumbui pemain yang datang dan pergi, tidak membuat Aremania dan Aremanita menyerah. Jatuh bangun, membuat tim ini seakan menjadi lebih solid. Dukungan moral dan doa dari ribuan pendukungnya, selain daripada itu tidak ada lagi yang menguatkannya.

Arema itu seperti pengalih massa. Dimana dia bertanding di situ ada Aremania. Seperti magnet, seperti gravitasi. Mengumpulkan serpihan-serpihan kecil Aremania dan Aremanita yang berserak. Logis, kita tidak boleh melihat medan gravitasi ini rusak, tidak bisa melihat magnet ini kehilangan dayanya. Apapun, untuk sesuatu bernama Arema, yang telah menyatukan jutaan jiwa menjadi satu, untuk tujuan persaudaraan dan rasa memiliki. Arema haruslah terus ada, dia harus terus menjejak bumi. Lambang singa itu harus terus berkibar, di langit dan di dada kami.

Arema kini tengah digoncang badai. Para pemain kita tidak kunjung mendapatkan hak-nya. Padahal mereka bukanlah pion, bahkan mereka bukanlah binatang di arena sabung ayam. Mereka manusia, sama seperti kita. Mereka memiliki keluarga yang harus terus hidup, mereka harus bahagia harus sehat harus tersenyum, agar semangatnya tertular kepada kita. Bukan nama besar tim, bukan pula lambang singa itu. Jika kita berpikir jauh lebih bijak, bukan hanya supporter, tetapi juga pemain dan pelatih lah yang membuat lambang singa itu terus berlari. Mereka yang menguras seluruh tenaganya agar singa kebanggan kita itu terus mengaum.

Kita senang melihat mereka berlari, kita senang melihat mereka menang. Tapi, lihatlah ke belakang, pada saat kita pulang dengan senang hati, kembali ke rumah kita yang hangat, menyeruput secangkir kopi, dengan mulut penuh dengan cerita kemenangan dan kebanggaan yang terus menerus di terputar di kepala. Para pemain mungkin memiliki cerita yang berbeda, apapun itu mereka perlu mendapatkan hak-nya, terlepas dari apa yang kita lihat.

Ada yang mengatakan bahwa, baik mungkin kita bukan fans dari pemain atau pelatih [sebut saja Njankamania, Alongmania atau Robertmania, Bustomers atau Wakaholic, apapun]. Saya hanya mengajak semua kawan satu jiwa untuk menjadi mereka. Marilah kita berpikir lebih dalam, bahwa kita memang Aremania tapi tanpa pemain, apa jadinya kita. Pemain mungkin bukan segala-galanya bagi sebagian anda, tapi mereka asset, sama seperti kita para supporter. Anda mungkin berpendapat bahwa pemain boleh datang dan pergi, namun dengan kondisi tim seperti ini, siapa yang anda kira akan datang untuk merumput bersama lambang singa ini lagi?.

Sebagian besar dari mereka bertahan setelah musim kemarin juga mengalami hal yang sama, apa yang mampu tim berikan untuk loyalitas mereka?. Suporter bukan hanya penyanyi di lapangan hijau, juga bukan penggembira dan hanya berhenti di level penyebar semangat. Suporter itu social control, kita memiliki kekuatan untuk merubah sesuatu. Pemain tidak bisa berteriak membawa spanduk di lapangan bola atau di depan kantor pengurus club, mereka atlet bukan buruh bangunan atau pegawai pabrik. Mereka memiliki lebih sedikit pilihan.

Saya sedih membaca berita pagi ini, Njanka keluar dari Arema, mungkin ini bukan berita besar. Tapi dia itu motor penggerak yang merubah pemikiran Noh Alam Shah dan Ridhuan untuk kembali ke Arema setelah pinangan Sriwijaya awal musim ini. Kini kita kehilangan motor, siapapun Njanka, dia pemain penting. Saya tidak mampu membayangkan jika Ahmad Bustomi, Beny Wahyudi dan Kurnia Meiga menyusul langkah Njanka, hanya karena alasan gaji, sungguh ironi. Tim sebesar Arema, tak mampu membayar gaji pemain.

Kita masih punya banyak stok pemain, sebut saja Purwaka Yudhi, Rony Firmansyah, Fakhrudin, Waluyo, Esteban dan yang lainnya, jujur saya tidak memiliki cukup cara untuk menghentikan niat mereka jika ingin merumput di ladang lain. Saya heran mengapa orang mengira bahwa kehilangan pemain itu hal yang gampang. Mungkin ini berlaku bagi tim lain yang kemudian mampu membeli pemain lain dengan kualitas sama atau bahkan lebih bagus, namun dengan kondisi keuangan Arema, kita akan mencari pemain dimana?. Saya bersedia untuk masuk Arema tanpa dibayar, tapi siapa saya, saya bukan pemain sepak bola. Ini bukti bahwa ternyata semangat saja tidaklah cukup untuk membuat Arema tetap berlari.

Pemain itu penting, sama pentingnya seperti anda dan saya. Saya menekankan pada betapa ini masalah besar, bukan hanya isapan jempol belaka. Perubahan tidak bisa menunggu, manajemen Arema harus di rombak. Manajemen itu harusnya sekumpulan orang pintar bukan hanya politikus yang sama sekali tidak mencintai sepak bola.

Saya tidak takut, saya melawan. Mereka menggunakan Arema sebagai wadah politik kotor, mereka menggunakan Arema sebagai alat propaganda sosial. Apa lagi yang lebih jahat dari orang yang mengambil kesenangan dan kebanggaan supporter dari olahraga yang dicintainya.

Berlarilah singa-singaku, jika itu membuatmu terus hidup.
Tersenyum sajalah, kami lebih dari sekadar mengerti.
Keringat yang tidak dibayar itu dzalim.