Tuesday, 12 October 2010

suporter kesebelasan tetangga itu masih saja Rasis

Usai sudah laga persahabatan antara Indonesia melawan Maldives, syukur Alhamdulillah, Indonesia mampu memenangkan pertandingan dengan score 3-0. Terima kasih saya ucapkan kepada Toni, Yongki dan Otavianus sebagai penyumbang gol sore ini.

uji coba kali ini diadakan di Bandung, menjadi pertanyaan saya juga, mengapa tidak sekalian saja diadakan di GBK, tempatnya lebih netral, suporter bola yang datang lebih dewasa dan tentu saja GBK adalah stadion dengan fasilitas yang lebih bagus. belum lagi tanya saya terjawab, kenyataan menampar saya lagi. Saya sayup-sayup mendengar nyanyian menyebutkan Arema dan Indonesia, tapi saya tidak tahu dengan pasti mereka menyanyikan apa.

nampaknya yel-yel rasis masih berlaku untuk laga Indonesia, dimana seharusnya semua suporter nasional bersatu. Bandung, ternyata 'masih' menyimpang dendam pada Malang dan Jakarta [saya tak bisa menterjemahkan kota-kota ini menjadi nama tim-tim ISL, bagi anda yang suka bola nasional, maka pasti anda mengerti akan kode kota ini].

ahhh setelah saya konfirmasi kepada salah satu pemain, ternyata benar, mereka melontarkan ejekan menggunakan nama binatang dengan sangat tidak sopan, padahal ini untuk Indonesia, bukan untuk kemenangan tim, saya tidak habis pikir. Mengapa suporter tetangga sebelah itu masih saja seperti anak-anak TK, sama sekali tidak dewasa.

meskipun tidak berpengaruh terhadap pemain, tetapi hal ini akan menimbulkan provokasi di pihak suporter lain. Ahhh, kalau begini Indonesia kapan damainya. Kembali lagi pertanyaan saya, mengapa Bandung, mengapa Siliwangi, mengapa sore hari yang panas, bukankah GBK di Jakarta jauh lebih memenuhi syarat. Saya tidak habis pikir.

Saya mencintai persepakbolaan Indonesia, tapi saya benci suporter seperti itu. Semoga suporter di Malang dan Jakarta jauh lebih dewasa menghadapi ini.

Come on ::: Ini Indonesia kita, bukan hanya pemain, suporter juga menjadi sorotan. Damai saja, saling menyakiti tidak akan membawa apapun.

saya sungguh prihatin atas kejadian ini, semoga tidak terulang lagi.

.adios.


DJ

Monday, 11 October 2010

INA vs URU

capek tapi puas.

sebagian mungkin akan terheran dengan tagline saya. Puas? dengan hasil 1-7 untuk kemenangan Uruguay lantas saya puas?. Bukan, bukan puas itu yang saya maksud. Saya tidak pernah bersedih meskipun Indonesia kalah dalam laga itu tanggal 18 itu, karena saya tidak berbekal ambisi, saya berbekal otak dengan rasionalitas. Uruguay tim besar, peringkat 7 FIFA, sedang Indonesia berada pada peringkat 131 FIFA. Hitungan apapun akan mengatakan bahwa hanya keajaiban saja yang membuat Indonesia mampu mengalahkan Uruguay.

Sejak pertama saya memaksakan kaki saya yang sudah lelah sepulang kerja untuk tetap menonton laga ini karena saya tahu bahwa 11 saudara kita tengah berjuang, meskipun ini hanya laga uji coba, tapi ini penting, terutama bagi saya dan Nanda.

Mulai bulan ini kami harus memulai menabung Persiapan Menikah Mandiri, dan otomatis hampir 75% dari kocek kami terkuras untuk rencana ini. Tapi kami masih rela untuk menyisihkan sedikit untuk membeli tiket laga besar ini.

siangnya setelah sholat Jum'at, saya dan Indra [salah satu teman kantor] nekatpergi ke GBK hanya untuk membeli tiket yang kabarnya di borong calo. Jadilah kami berpanas-panas, dan terjebak macet yang lama di Sudirman. Tapi tak apa, karena 4 tiket 150ribu [kategori II,dibelakang gawang] sudah di tangan. Lega rasanya.

sorenya,sekitar pukul 5,saya sudah membereskan dokumen2, bersiap untuk berlari pulang saat handphone saya berdering, ternyata telepon dari Nanda yang mengabarkan bahwa kami mendapat tiket gratis dari Ahmad Bustomi pemain timnas nomor punggung 19 yang kami kenal hanya dalam hitungan minggu namun sudah seperti kakak sendiri bagi kami. Sontak saya girang bukan kepalang, tapi lebih dari itu, saya juga pusing, tiket saya sendiri akan dikemanakan. Makan saya memiliki ide untuk menjualnya lewat jejaring sosial Twitter, dan tidak sampai 5 menit handphone saya berdering lagi, teman saya menelepon bermaksud membeli, huff syukurlah.

menurut Bustomi kami harus mengambil tiket itu di receptionis hotel, maka setelah bergelut dengan macet, saya berlari-lari menuju hotel tempat Timnas menginap. Dua tiket West VIP, yayyyyyyy.... ^_^v

Kami pun datang ke GBK tergesa-gesa, kick off dijadwalkan pukul 19.30, dan saat itu tiba kami masih berada di pelataran parkir :( ... beberapa botol minuman saya di sita petugas, dalam perjalanan kami masuk GBK. Tak apalah.

Indonesia kalah, tapi Bustomi main bagus. Saya dan Nanda puas, saya puas karena sudah menonton laga ini, dan mungkin Nanda lebih puas karena sudah meneriaki pak Nurdin Halid 'live' #NurdinTurun #NurdinTurun.

berikut beberapa hasil jepret yang baru bisa kami ambil saat laga berakhir :

kami :::


saya:::


nanda:::


:::: kami tidak mengenakan kaos Garuda kami mengenakan kaos,jaket dan syal AREMA INDONESIA, dan kami berteriak keras saat nama-nama punggawa AREMA INDONESIA disebutkan, baik sebagai starting line-up maupun pemain subtitusi::::


thanks to Ahmad Bustomi [19] of National Team of Indonesia, semoga karirmu semakin gemilang ^_^ :::

.adios.

DJ

Thursday, 7 October 2010

A Super Night

Mohon maaf apabila sebelumnya ada yang sempat membaca postingan A Super Day dan kemudian sekarang sudah tidak ada lagi. Yap, saya telah menghapusnya. Setelah saya baca berulang-ulang saya mengira kalau isinya terkesan berlebihan, walau sebenarnya itu yang senyatanya terjadi.

Saya perkenalkan dulu.
Jujur,saya tidak pernah mengenalnya dan bahkan perduli padanya. Nanda (tunangan saya) memperkenalkan dengan Tim sepakbola ini ketika kami sudah di Jakarta, dan saat saya datang ke stadion dan merasakan euforia dan energi yang sangat besar tertular begitu saja, saya langsung memutuskan untuk mencintai Tim ini.

Arema Indonesia atau yang sekarang adalah Arema FC adalah sebuah club sepak bola independen besar yang ada di Indonesia. Juara ISL tahun 2010 membuat beberapa nama pemain yang dulu kurang di kenal publik tiba-tiba mencuat. Bukan karena apa-apa, prestasi mereka memang luar biasa. Coba anda bayangkan Arema Indonesia itu seperti kawah chandradimuka, banyak pemain-pemain muda, bermain dan tumbuh menjadi profesional di sana.

Tahun ini, Arema Indonesia adalah penyumbang terbesar pemain Tim Nasional Indonesia.
Boleh saya sebutkan ada 6 nama setidaknya yang dipanggil BTN untuk bergabung.
[1]. Ahmad Bustomi
[2]. Beny Wahyudi
[3]. Zulkifli Syukur
[4]. Kurnia Meiga Hermansyah
[5]. Irfan Raditya
[6]. Yongki Ariwibowo

dan hari Rabu malam kemarin, saya dan berencana menemui sang gelandang, Ahmad Bustomi. Malam itu istimewa bagi kami, karena Cimot (sapaan akrab untuk Ahmad Bustomi) bersedia menemui kami.

Kami kesana membawa Bakmi GM untuk Cimot, sebenarnya secara spesifik Cimot menginginkan Mie Ayam, tapi karena saya tidak begitu menguasai tempat kuliner yang enak dan bersih di Jakarta, saya putuskan untuk membeli Bakmi GM saja. Dengan pertimbangan, kami tidak ingin terjadi sesuatu pada sang gelandang akibat makanan yang kurang higienis.

Kami sedikit terlambat dari waktu yang kami janjikan untuk menemuinya, pukul 8 malam. Sudirman macet total dan gerimis yang jatuh membuat kami sedikit meriang. Tapi tak apalah, demi bertemu Cimot, hujan deraspun akan kami terjang.

Sesampainya di Hotel Kartika Chandra yang pada saat itu ramai sekali (ada beberapa mobil TV One yang akan mengadakan siaran langsung talk show, bersama tiga pemain naturalisasi, Riedl dan Bambang Pamungkas). Kami memberanikan diri masuk ke lobby, dan langsung menuju kamar nomor 7** milik Cimot. Di depan kamar, setelah kami menekan bel, saya mengirimkan sms untuknya. Tidak ada balasan.

Saya sangat tegang, dan bahkan dari sekian banyak pengalaman menegangkan yang pernah saya alami, bertemu orang baru yang saya segani adalah pengalaman yang paling tidak dapat saya tolerir. Maka sambil menunggu pintu dibuka, saya berjalan menuju sebuah lorong yang saya kira kosong. Ternyata Cimot yang pada saat itu beriringan dengan Beny keluar dari ujung lorong, berhadapan langusng dengan saya. Bukan berita baik, karena saya langsung panik.

Cimot menyalami saya, begitu pula dengan Beny. Mereka sangat ramah dan selalu tersenyum. Sebelum saya diperbolehkan masuk ke kamarnya, mereka membersihkan beberapa 'hal' terlebih dahulu. Saya maklum.

Pas saya masuk, saya langsung membau keringat dan sepatu yang habis dipakai, benar saja ada sekitar 6-8 pasang sepatu yang berjajar di sana, dan beberapa kaos yang tersampir di sandaran kursi. Saya langsung menghela nafas 'ini kamar laki-laki' gumam saya dalam hati.

perbincangan dimulai dengan pertanyaan Cimot apakah kami akan hadir untuk menonton INA lawan URU pada tanggal 8, dan kami langsung menjawab "Iya". Kami dijanjikan tiket free jika ada pembagian dari pihak official untuk para pemain. Kami senang tapi juga tetap waspada apabila ternyata tiket free itu tidak jadi kami dapatkan.

Saya etrlihat sangat kikuk, dan Nanda mengerti itu, sehingga seluruh pembicaraan hampir dia yang selalu mengambil alih, selebihnya obrolan-obrolan kecil bisa saya lontarkan.

Banyak hal yang diceritakan, baik, buruk, senang, susah, tapi lebih dari pada itu mereka sangat lucu. Saya tidak berhenti terpingkal sampai sesi photo bersama di akhir pertemuan kami.

Semua cerita dibeberkan dengan apa adanya, tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Saya salut.

berikut adalah beberapa foto yang sempat saya ambil kemarin.

Ahmad Bustomi, saya, dan Beny Wahyudi


Nanda, Beny Wahyudi dan Ahmad Bustomi


satu hal yang pasti. saya tidak berhenti tertawa saat pengambilan foto ini. ^_^ huhuhu saya benar-benar bodoh tidak memperggunakan waktu ini dengan sebaik mungkin.

semoga kami dapat bertemu kembali. Semoga Indonesia mampu mengimbangi Uruguay besok. Apapun yang terjadi, semoga Garuda pantang menyerah.

thanks to : Ahmad Bustomi[19] dan Beny Wahyudi[7] of [Arema Indonesia]

.adios.

DJ

Tuesday, 21 September 2010

the la brea tar pits

Bagian ke 6 Chapter II Reckon ILLANA

[6]
the la brea tar pits


"Nothing is in front of me
I feel I can’t even breathe
Don’t think that I can handle this
Baby I’m so in agony
Look at the state of me
Left here broken
You said you’d never leave
Look what you’ve done to me
Left here broken”
[Broken – Mclean]

Arka duduk di bench pemain, memegang sepatu sebelah kirinya yang belum terpasang. Hari itu masih pagi, sekitar pukul 6, tapi semua pemain dan pelatih sudah hadir di lapangan. Cuaca yang mendung sangat tidak mendukung semangat Arka untuk berlatih hari itu. Hari ini genap 4 hari kepergian Illana ke Jerman. Entah kapan Illana akan kembali, dan Arka semakin yakin bahwa kesempatannya untuk bertemu Illana kembali adalah sebuah fatamorgana.

Dia sendiri tidak mengerti mengapa hatinya tak pernah berhenti merasakan Illana. Pikirannya hanya tentang Illana dan Illana saja. Arka seorang pemain gelandang bertubuh proposional dengan bakat, keakuratan dan kekuatan yang menjadikan dirinya kandidat pemain tim nasional. Wajahnya tampan, dan matanya lembut. Arka bukan pemain sombong yang arogan, dia punya banyak penggemar wanita yang bersedia melakukan apa saja untuknya. Kini, Arka tak ayal seperti tumpukan karung bekas, bersandar pada hatinya yang luluh lantak.

Arka menunduk, tangannya kaku karena terpaan dinginnya pagi. Teman-temannya telah mendahuluinya melakukan pemanasan ringan, namun kakinya tertancap di tempatnya menjejak kini. Arka kehilangan separuh dirinya dan dia tahu itu. Illana memang bukan siapa-siapa, dia memang tidak cantik dan tidak melakukan apa pun kepada Arka. Selain kejujurannya, ketulusannya, ke-dia-annya, Illana hanya tak bisa dibandingkan dengan apapun dan kenyataan bahwa dia adalah orang yang sangat disayanginya begitu dalam. Arka memejamkan mata, mencoba merasakan Illana di hadapannya.

Illana, aku tidak memaksamu untuk memikirkanku saat ini, namun aku ingin kau membuatku merasa kau ada. Aku tidak ingin menangis, aku laki-laki Illana. Aku ragu aku bisa berlari, aku ragu aku mampu berdiri, aku tak lagi yakin pada diriku sendiri. Aku tidak akan mempertanyakan mengapa kau pergi. Aku hanya bersedih mengapa hati ini sedemikian sakit. Kau bukan satu-satunya wanita yang pernah singgah di hati ini Illana. Tapi dirimu menyisakan begitu banyak imagi. Kau memberikanku arti. Illana, jika kau mendengarku kini, maka katakanlah pada angin yang selalu membelaiku ketika aku berlari, bahwa kau akan kembali. Dan jika saat itu datang Illana. Aku menunggumu di sini“

Arka menarik nafasnya kuat-kuat, seakan dia menginginkan angin menjadi pelipur hatinya yang kosong, memakai sepatu sebelah kirinya, menjejakkan kakinya kuat-kuat dan mulai berlari.

[4 jam berlalu, Arka merebahkan tubuhnya yang lelah pada hamparan rumput yang hijau ]

Aziz, kiper kesebelasan itu, menghampiri Arka, kemudian duduk dengan posisi memeluk lutut.

”Lupakan Kak, jangan bersedih, dunia tidak akan berakhir tanpanya, coba lihat sekeliling“, Aziz menunjuk ke arah bangku penonton yang melingkari mereka.

Arka pun bangkit, duduk bersila, dan memandang Aziz yang tersenyum. Matanya menjelajahi setiap orang yang sedang menontonnya latihan, sebagian melambai pada saat Arka menoleh, sebagian lagi menjerit kegirangan.

”Bukan ini yang aku cari, sesuatu yang lain“. Arka pun meneguk minuman dari dalam botol di sampingnya. Aziz menambahi “Sesuatu yang lain yah Kak“ matanya menyiratkan kata-kata antara campuran rasa heran dan ketidaktahuan, kemudian dia tak kuasa menahan tawa. Arka, mau tak mau tersenyum dengan kikik lucunya. Namun senyum itu tak lagi sama seperti yang pernah di lihat Aziz dulu, atau bahkan yang mungkin pernah dirasakan Illana.

Sesi latihan berikutnya dihabiskan Arka dalam diamnya yang panjang. Arka seperti hilang dalam kehampaan yang nyata. Dia tidak ingin menjadi lemah atau berputus asa, namun jantungnya seakan tak lagi berdetak. Illana tidak pernah mengatakan cinta kepada Arka, sedangkan Arka selalu begitu repot meyakinkan bahwa Illana pada detik tahu bahwa Arka masih mencintainya. Sekuat tenaga semangat itu dialirkan ke seluruh tubuhnya.

Illana bukanlah gadis sempurna yang di dambakan setiap laki-laki di dunia. Arka tidak pernah melihatnya tersenyum, kaget, marah, bersedih, menangis, mengerutkan kening, mencibir. Arka hanya mampu menghitung berapa kali Illana menghela nafas berat selama mereka bersama. Arka merasakan beban yang begitu berat di dada Illana. Illana mampu membaca wajah, mampu mengenali gerak, Illana membaca emosi orang lain, namun dia kehilangan kemampuan untuk mengenali emosinya sendiri. Illana hidup dalam kesendiriannya yang nyata, sedangkan seandainya tangan Arka dan Illana bersentuhan, Illana terdiam, memandangi kedua tangan itu seakan sesuatu sedang terjadi di sana.

Arka selalu tak kuasa untuk tidak memeluknya, memeluk tubuh Illana yang kecil dan dingin. Arka hampir tak mampu merasakan tubuh mungil itu melakukan gerakan, bahkan tarikan nafasnya begitu lembut, seakan kau mampu mendengar suara hati yang berbisik keluar melalui sela-sela dadanya. Arka mencintai gadis itu, sama seperti ia mencintai kebenaran akan adanya Illana. Illana tidak pernah membalas pelukan itu, ketika lengan Arka sampai padanya, dia hanya terdiam. Arka hanya mampu merasakan ujung-ujung jari Illana menyentuh rambutnya. Arka selalu memejamkan matanya, pada awalnya hanya itu yang mampu dia lakukan, selanjutnya mata yang terpejam itu diiringi senyum. Arka menikmati keheningan yang menenangkan. Hanya mereka, yang mendengar detak jantung masing-masing dengan sabar.

Kepala Illana selalu tegak, tubuhnya selalu kaku, hanya ketika Arka memeluknya Illana menjadi seperti tumbukan bulu-bulu halus. Arka merasakan tumpuan berat tubuh Illana di dalam lingkaran lengannya. Illana mengajarkannya untuk tidak takut akan sepi, untuk tidak menyerah di kala sendiri, untuk bersahabat dengan diam. Karena hanya dengan diam, Arka mampu merasakan Illana, dan Illana merasakan dirinya. Jauh melebihi kata-kata yang pernah di ciptakan di muka bumi. Arka akan memeluk Illana, tanpa bergeser sedikit pun, menunggu Illana selesai menyentuh ujung-ujung rambutnya. Tapi itu tidak akan terjadi lagi, dan di tengah semua gadis yang berteriak padanya, Arka merindukan keheningan itu.

Arka hanya manusia biasa, dan dia sedang merasakan cinta yang tak sanggup digapainya saat ini. Laki-laki ini, sama seperti yang lain, ingin mengungkapkan kedalaman ini. Sebagian menulisnya dalam ribuan lembar surat, sebagian merekamnya dalam film-film, atau mungkin menyanyikannya dengan lara yang hampa.

“Aku tidak sanggup menolak rasa ini Illana. Kau begitu nyata di tengah semua kejadian yang kuanggap fana ini. Hanya jika aku berlari dan memeluk angin, aku merasa kau ada di sana. Aku merasa dirimu memelukku kembali. Jika kau kembali nanti dan kau temukan serpihan diri ini karena tak kuasa menahan sakit, kumohon satukan kembali dan bawalah kemanapun kau pergi“


The La Brea Tar Pits, jika Arka tahu istilah ini, jika saja Arka masih bersama Illana, pasti gadis itu akan membantunya menemukan jawaban. Mungkin dia akan semakin terpukul. Tempat seperti ini ternyata tersedia di bumi, tempat bagi fosil dan sampah tubuh manusia yang mati tak berdaya. Tenggelam pasrah tanpa daya, berkubang begitu saja, tidak melakukan apa-apa. Mungkin Arka bisa kesana sekali waktu, menemui teman senasibnya, yang sama-sama kehilangan nyawa, yang menilai menjadi perlu untuk menenggelamkan diri dan tidak muncul ke permukaan lagi. Pemakaman, yah tempat itu mirip pemakaman, dan Arka sedikit lagi mungkin akan memutuskan berakhir di sana, lebih cepat dari yang dia perkirakan.

.ADIOS.

DJ

Monday, 20 September 2010

Illana siap meluncurr :D

untuk Illana saya ingin ini yang jadi covernya ^_^v Insyaallah, doakan saya.



yang mau copy master novel buluk ini, just contact me :: skalian saya minta kritik dan sarannya :::

twitter : @mrsnugrah
Facebook : canggih puspitasari
email dan Gtalk : canggihpuspitasari@gmail.com
YM : doublepandt@yahoo.com

.adios.

DJ

salam satu jiwa

kata itu yang mendasari saya dan calon suami untuk nekat pergi ke Kanjuruhan di hari terakhir kami di Malang [18 Sept 2010]. Esoknya kami harus terbang ke Jakarta, karena hari Senin [20 Sept 2010] kami harus kembali bekerja.

salam satu jiwa :: seakan membius kami untuk merogoh kocek demi bangku VVIP. Insiden sebenarnya, karena tanggal 16 Sept saya sudah membeli 4 tiket VIP untuk saya, calon suami, dan dua sodari Aremanita saya [mbak Nina dan mbak Maya]. Ternyata tidak seperti di GBK yang ada stand Arema Senayan, di Kanjuruhan kalau kita membeli tiket di Radio Senaputra kita harus menukarkan tiket tersebut di Radio pagi harinya sebelum pergi ke stadion, yang mana tidak saya lakukan, saya pikir bisa gitu ditukar pas di stadionnya.[saya begitu bodoh].

Hujan deras dan angin kencang mewarnai perjalanan kami menuju Kanjuruhan, untung kami masih beruntung karena naik mobil. Sepanjang perjalanan saya dibuat berdecak kagum dengan semangat kawan-kawan suporter yang lain yang nekaaaaaat sekali menerobos badai dengan motor. Lambang Arema Indonesia menempel di dada mereka, dan itu yang membuat mereka pantang menyerah saya rasa.

Sesampai di Kanjuruhan [dengan kwitansi tiket yang tidak bisa ditukar] kami membeli tiket VVIP [tiket eko dan VIP sudah sold-out]. Berlari-larilah kami masuk ke stadion. Tapi insiden itu membawa hikmah juga ::: saya jadi bisa lihat para pemain Arema Indonesia dari jarak dekat ::: wahhh saya senannnnnnnnngg bukan kepalang.

Arema Indonesia sudah unggul 1-0 saat saya masuk, katanya itu gol Along [12] wahhh saya ketinggalan momen penting. Diluar sempat saya dengar Kanjuruhan bergemuruh, hati saya dag-dig-dug, untung Nanda [calon suami saya] bergerak cepat mencari tiket ^_^.

Di dalam stadion saya sempat dua kali naik-turun tangga, maklum saya gak pernah VVIP sbelumnya [enakan di tribun sambil nyanyi-nyanyi ternyata ><"].Sedikit sedih, karena ternyata Purwaka Yudhi [2] gak starter, terobati karena Esteban [17] akhirnya bisa saya lihat dari dekat, wahhh kerenn ternyata.

Mata saya berlesatan ke sana ke mari mengikuti semua manuver pemain Arema di tengah hujan yang membuat beberapa terpeleset, huff berjuanglah singa-singaku. Persija main agak letoy, beberapa kali pelanggaran dengan ganjaran kartu kuning.

Zulkifli akumulasi kartu sepertinya dan harus keluar di menit [saya tidak tahu :(, sumpah] dan harus di gantikan Zie-Zie. Gak Lama Purwaka [2] dan Revi [37] masuk, kemudian Fachrudin [5] masuk juga, wahh skuad favorit saya masuk semua, saya semakin senang.

KMH mainnnnnnn baguuuuuuuus ::: beruntung Arema Indonesia memiliki dia.

Adegan seru :: pas Bepe diganti dan dia masuk ruang pemain, dia sempat melepas jersey-nya dan melempar ke arah tribun VVIP [yang mana di sebelah kanan saya 'pas'] sungguh terlaluuuuuuuuuuu >.<".

score bertambah menjadi 2-0 saat Esteban [17] menjebol gawang HK lagiii [bravooo], ehmm sebenarnya kalo Pinalty Njanka[24] tidak gagal dan Gol Musafri[29] > Arema Indonesia menang 4-0 wahhhhhhh. Tapi tak apa, 2-0 melawan tim sekelas Persija itu prestasi.

Hujan beranjak reda seiring berakhirnya pertandingan dan Aremania/nita pulang dengan hati gembira. Singa-singa kami menanggg, dan itu cukup.

Hari terakhir di Malang, salam satu jiwa, menang dan bertemu dua sodari Aremanita baru yang saya dapatkan dari Twitter membuat saya terkesan.

Tapi jauh daripada itu, sama seperti Arema Indonesia yang saya cintai, saya selalu bersama dengan Nanda, calon suami yang memiliki satu jiwa. Ahh, siapapun yang menciptakan slogan 'salam satu jiwa' saya sungguh angkat topi untuk anda.

.adios.

DJ

Monday, 6 September 2010

coff33 Fellaz

my rockin' coff33 fellas

mee twitter @mrnugrah


gie twitter @reginamboeik


jay > don't ask dia hanya punya nomer NPWP [not twitter educated person]


rue twitter @rudibachtiar


pii twitter @mrnugrah



beberapa minggu dalam bulan ini saya sering habiskan bersama teman-teman dekat : meneguk beberapa tetes kopi nikmat : yah, kami suka kopi : dan ngobrol ngalor-ngidul berbicara tentang apapun : kentang goreng, calamari, chicken wings dan yang baru coklat sialan bernama Chocolate melt yang maha nikmat.

load pekerjaan yang membuat kami seperti terlindas : tak sanggup bernafas : bahkan dalam satu bulan ini kegiatan menulis novel saya terbengkalai begitu saja : padahal deadline nya sudah semakin dekat : sepertinya saya terancam gagal mengirimkan naskah tepat pada waktunya :

blog ini pun : yang saya janjikan akan rajin ditulisi setelah beberapa blog yang gagal saya buat karena tidak stabil : juga ikut2an tidak terurus :

teman-teman ngopi saya sama seperti twitter : sama-sama mengasikkan : sama-sama rame : kami berbicara bahasa yang sama : memiliki pemahaman yang lain namun sanggup menghargai : kami bersama seperti saudara yang saling memuaskan dahaga : saling tertawa dan melempar guyonan ringan khas warung kopi :

kami memang ingin sekali menemukan warung kopi di Jakarta yang bisa sambil lesehan seperti di Malang : tapi yang kami temukan malah Anomali dkk : cukup mahal namun Anomali menjadi tempat favorit kami :

ini beberapa hasil jepretan foto teman-teman ngopi [coff33 fellaz] saya : tujuan di mana kami ngopi dan menghabiskan waktu selalu terupdate lewat twitter.
mention one of us, jika ada usul tempat ngopi seruu : kami akan datang ^_^

.adios.

DJ